PUSAT SOFTLENS MURAH KLIK DI SINI                    <<|>>                    SOFTWARE ADMINISTRASI OPTIK KLIK DI SINI
Home > Kacamata, Lensa Kontak > Softlens Dan Kacamata Lebih Bagus Mana?

Softlens Dan Kacamata Lebih Bagus Mana?

Pertanyaan yang membandingkan ini ternyata masih sering saya terima dari para pengunjung optik saya, terutama pemakai kacamata yang ingin mencoba/beralih ke softlens. Seperti biasa, saya tidak mengemukakan jawaban yang meng-gebyah uyah (menggeneralisir) bahwa softlens lebih bagus dari pada kacamata, atau sebaliknya. Semuanya saya rujukkan pada situasi dan kondisi penanya. Jadi, jawaban yang diterima oleh penanya A belum tentu berlaku untuk penanya B.

Seperti sudah saya tulis di artikel yang ini, kinerja optis lensa kontak (termasuk juga softlens) memang memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan kacamata. Namun ini bukan berarti bahwa softlens merupakan solusi terbaik untuk mengatasi kaburnya penglihatan akibat kelainan refraksi (myopia, hypermetropia, astigmatisme, presbyopia). Penentuan mana yang terbaik, harus mempertimbangkan kondisi yang ada pada penderita kelainan refraksi tersebut.

Softlens akan lebih bagus dari kacamata jika:

  1. Calon pemakai tidak memiliki riwayat alergi, karena dikhawatirkan akan tidak tahan dengan produk-produk kimia yang digunakan dalam perawatan softlens. Jika calon pemakai memiliki riwayat alergi, sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter spesialis mata, apakah boleh memakai softlens atau tidak.
  2. Belum pernah menjalani operasi mata, terutama yang mengakibatkan perubahan bentuk/kontur kornea. Pemakaian softlens untuk mereka yang pernah menjalani operasi mata sebaiknya sudah mendapat persetujuan dokter yang berkompeten.
  3. Tidak memiliki kelainan bentuk kornea yang terlalu rata/flat (cornea plana) maupun yang terlalu mengerucut (keratoconus). Kedua kelainan bentuk kornea tersebut akan dapat menyebabkan softlens/lensa kontak tidak dapat fit/terpasang secara ideal).
  4. Tidak memiliki kelainan palpebra (kelopak mata) yang mempersulit pemasangan dan pelepasan softlens, atau yang menyebabkan kedudukan softlens tidak ideal.
  5. Tidak bekerja di lingkungan yang berdebu, bersuhu tinggi, atau pun beruap bahan kimia (misalnya di pom bensin, area pengecatan mobil, dll).
  6. Terdapat kasus anisometropia tinggi, yaitu mata kanan dan kiri memerlukan ukuran lensa yang berbeda jauh. Pemakaian softlens dalam kasus ini tentu saja juga harus memenuhi 5 persyaratan di atas.

Jika kelima persyaratan yang disebutkan di atas tidak dapat dipenuhi, maka kacamata akan menjadi solusi yang lebih bagus dari pada softlens. Jika terdapat kasus anisometropia tinggi namun tidak dapat memenuhi kelima persyaratan diatas, maka solusi terbaiknya adalah dengan menjalani operasi LASIK, meskipun untuk itu juga harus memenuhi beberapa persyaratan lagi.

Khusus bagi para pengusaha atau pemilik optik, tentunya akan lebih bagus kacamata dari pada softlens. :-D

  • Share/Bookmark
  1. Dessy
    June 16th, 2010 at 08:08 | #1

    Selamat pagi.. saya dessy, umur saya hampir 20th. Sudah 3 th lebih saya pake lensa kontak. Awalnya saya adl pengguna kacamata, tapi krna kondisi fisik saya yg tidak mendukung alias idung saya pesek (:D), jadinya agak ribet kalo pake kacamata. Terus saya beralih ke lensa kontak tanpa konsultasi dokter dulu dan pgwai optik yg sy datangi juga tidak pernah menerangkan mengenai a-z’nya softlense.
    Yang ingin saya tanyakan adalah apakah permukaan lengkung dalam softlense bisa di balik menjdi lengkung luar saat pemakaian? jadi yg seharusnya lengkung permukaan luar menjadi lengkung permukaan dalam.
    Masalahnya akhr2 ne softlense yg sy gunakan terkadang terasa tidak nyaman. Mata seperti tertusuk, yg terasa bukan korneanya tapi bola mata sy. terus saya coba balik permukaannya.. yang awalnya permukaan luar, jadi permukaan dalam dan kemudian saat saya pake rasanya g sakit.
    apakah itu bisa? atau malah berbahaya?
    mohon informasinya…
    apabila anda tidak keberatan mohon jawaban dikirim ke email saya..

    terima kasih

  2. June 16th, 2010 at 15:35 | #2

    @Dessy
    Softlens, sebenarnya didisain tidak sekedar dengan 1 kurva/lengkungan seperti bentuk irisan bola. di bagian tepi lingkaran softlens, dibuat lengkungan/kurva khusus yang berfungsi untuk memperbaiki kenyamanan softlens pada saat dikenakan. Jika softlens dikenakan secara terbalik, maka lengkungan khusus ini akan kehilangan fungsi, bahkan malah dapat menimbulkan ketidaknyamanan.

    Pada kasus mBak Dessy, gejala yang mBak keluhkan biasanya terjadi jika softlens terpasang dalam posisi terbalik. Jadi, besar kemungkinan keluhan yang mbak rasakan adalah justru akibat softlens yang terbalik pemasangannya. Ketika kemudian dilakukan perubahan, maka rasa mengganjal/seperti tertusuk itu tidak terasa lagi.

    Tanpa diminta, biasanya salinan jawaban ini juga otomatis dikirimkan ke email penanya..

  3. June 20th, 2010 at 10:38 | #3

    Hai Om / Mas,,,saya Kiky…!!!
    Mohon bantuannya nih,,,numpang tanya… :)

    Saya kiri minus 8 dan kanan minus 7,,,dua2nya silinder 1,,,terakhir cek tepat sekitar tahun lalu…!!!
    Umur 19th saat ini…

    Sebelumnya saya pake kacamata dan ndak ada masalah,,,tapi barusan ini saya dibelikan ortu softlense Omega 56 bening yang 6 bulan dengan minus sesuai dengan kacamata
    Waktu pertama makainya kok :

    - Penglihatan saya jadi agak blur,,,tidak jelas…Padahal saat pakai kacamata ndak ada masalah… Seolah dari yang minus 8 saat saya pakai softlense minus 8 malah sperti makek minus 7,,,jadi masih belum jelas…
    Saya pikir saya kebalik pasangnya antara kiri dan kanan,,,tapi stelah saya coba balik kiri kanan 2x,,tetep aja masih kabur…
    Saya juga mikir apa minus saya tambah,,,tapi kalo misal tambah kenapa kalo pakai kacamata ndak kenapa2 ya…

    - Kedua,,,saat makai softlense seolah di mata tuh ada air yang menutupi dan mengganggu penglihatan sehingga jadi ndak fokus. Baru kalo mata melotot ke titik fokus nah baru bisa fokus dan detail.

    1. Kira2 kenapa ya,,,apa penyebabnya dan gimana solusinya.

    2. Saya jadi sempet kepikiran buat ganti merk softlense dan MENAMBAH MINUS saya jadi kiri 8 kanan 8 atao mungkin juga malah kiri 9 kanan 8. Saya mikirnya kalo ditambah mungkin bisa lebih jelas. Menurut sampeyan piye?

    3. Apa mungkin ada hubungannya dengan silinder saya? BTW softlense tetep ada silindernya kan ya?

    4. Menurut sampeyan,,,dari merk2 X2, A+, Fresh Look, FreshKon, O2 dan Omega paleng bagus nyaman dan cocok kira2 buat saya yang mana ya?

    5. Trus lebih baik mana menggunakan softlense bening dan warna?

    Mohon pencerahannya ya Om / Mas,,,saya ucapkan sangat banyak terimakasih sbelumnya,,,maaf merepotkan… :D
    Saya butuh ilmunya nih,,,hwe3x…

  4. June 20th, 2010 at 11:04 | #4

    @kiky w
    Omega bening seperti yang di http://www.softlensku.com/softlens/softlens-clear/omega56/ ?
    kalau iya, itu tidak punya yang ukuran silinder.. trus juga masa pakai per softlens-nya hanya 1 bulan.. dikatakan 6 bulan karena 1 box berisi 6 pasang softlens sehingga keseluruhannya akan memberi masa pakai 6 bulan..

    1. Dengan asumsi softlens-nya seperti yang saya jelaskan di atas, kemungkinan besar penyebabnya adalah karena astigmatism-nya (ukuran silindrisnya) tidak terkoreksi, karena softlens-nya memang tidak memiliki ukuran silindris.

    2. Jika kacamata-nya berdioptri minus (-) maka ukuran dioptri softlens yang dipakai mustinya sedikit lebih rendah dari pada ukuran lensa kacamata. Silahkan baca2 artikel yang ini.

    3. Kemungkinan besar, Ya. Omega56 seperti yang saya jelaskan di awal, tidak memiliki ukuran silinder.

    4. Tidak bisa menentukan mana yang bagus tanpa melakukan pemeriksaan dan atau observasi terlebih dahulu.. Sangat tergantung dengan kondisi mata calon pemakai.

    5. Suka-suka yang mau pakai sih.. bening atau warna kan hanya persoalan estetika, dan yang demikian ini kan biasanya cenderung subyektif. Kalau soal unjuk kerja sih sama saja, selama keduanya memiliki spesifikasi yang sama.

    Sama-sama.. idup ini repot kok.. nek nggak mau repot ya nggak usah idup.. :-D

  5. heri
    August 23rd, 2010 at 20:48 | #5

    saya laki-laki masih usia 26 tahun sejak usia 12 tahun saya sudah menggunakan kacamata dan sampai pemeriksaan dokter mata yang terakir kira2 5 bulan yang lalu adalah - 6 kanan dan kiri, kira-kira 2 bulan yang lalu saya mengalami gangguan penglihatan dekat, saya tidak bisa membaca jarak dekat karena semua tulisan hanya telihat seperti garis rata saja. kemudian smaya periksakan ke dokter mata lagi seminggu yang lalu. dan hsailnya - 6,75 kanan dan kiri, tetapi setelah saya sampakan keluhan penglihatan dekat saya, maka dicoba ditambah dengan lensa plus untuk membaca dan hasil yang paling jelas untuk penglihatan dekat saya adalah +3, dokter juga heran.karena untuk +3 biasanya malah untuk presbiopi usia 60 tahun dan resep yang cocok diajurkan menggunakan kacamata bifokal…pertanyaan saya:
    1. apakah mungkin di usia saya yang masih muda ini, saya sudah menderita presibiopi?jika bukan presbiopi, kelainan mata saya ini apa?
    2. apakah ada efek samping jika saya menggunakan kacamata bifokal pada usia muda?mengingat saat ini sudah saya pakai kacamata bifokal dan hasil penglihatan jauh dan dekat saya sudah sangat jelas, walaupun pada penglihatan jarank sedang masih agak kabur.
    3. apakah saya sampai tua akan memakai kacamata bifokal? dan jika usia saya diatas 40 tahun apakah terus ada penambahan baik minus atau plus pada mata saya?

    mohon penjelasan. agar rasa kekawatiran saya bisa berkurang. atas bantuannya terimakasih.

  6. August 24th, 2010 at 12:33 | #6

    Hmm.. addisi +3,00 adalah nilai addisi (tambahan) terkuat yang diberikan.. berarti kemampuan akomodasi mata anda benar2 sudah sangat lemah. Apakah gejala tersebut datangnya tiba2 ? Kalau iya, mestinya dokter memeriksa lebih lanjut penyebab dari timbulnya gejala tersebut. Karena kasus presbyopia precock (presbyopia dini) seperti ini sangat jarang. Saran saya, sebaiknya anda mencari second opinion dengan periksa ke dokter spesialis mata yang lain. Sampaikan keluhan dan gejala yang anda alami dengan gamblang.

    1. Meskipun jarang, memang mungkin. Kelainan tersebut namanya presbyopia precock seperti sudah saya tulis di atas. Tentang kemungkinan lain, saya pernah mendapati pasien yang mengalami depresi juga mengalami gejala seperti yang anda alami.

    2. Menurut saya, tidak ada. Kecuali pada rasa percaya diri yang mungkin menurun karena malu menggunakan kacamata sebagaimana yang dipakai orang tua. Untuk solusi hal ini, sebaiknya pakai lensa progresif (multifokal). Selain mampu memberi ketajaman penglihatan untuk jarak menengah/sedang, juga tidak akan tampak adanya garis pemisah yang menandai area untuk melihat dekat. Jadi penampilan lensa kacamata anda akan tetap seperti kacamata anak muda yang lainnya. Solusi lainnya, punya 2 kacamata, yang 1 untuk penglihatan jauh, dan satunya lagi (ukurannya: -6,75+(+3,00) = -3,75) untuk penglihatan dekat.

    3. Tergantung dari penyebab melemahnya kemampuan akomodasi mata anda. Jika hanya karena depresi seperti yang saya sampaikan di atas, biasanya akan dapat pulih lagi, meskipun nanti di usia 40an juga akan timbul lagi (alamiah). Namun jika penyebabnya adalah kelainan organis yang menetap (misalnya karena komplikasi penyakit tertentu, atau kelemahan fisik bawaan), ya presbyopia tersebut akan terus dialami sampai usia lanjut nanti.
    Penambahan minus di usia >40 tahun bisa saja terjadi, terutama jika aktifitas sehari-hari anda lebih dominan membutuhkan penglihatan dekat (kutu buku atau kutu monitor :-) ), dan sangat jarang digunakan untuk melihat ke arah jauh.
    Untuk penambahan plus-nya (menurut saya: derajat presbyopia-nya), saya tidak bisa memastikan. Addisi +3,00, umumnya adalah nilai lensa tambahan (addisi/addition) = tambahan) untuk mengatasi kondisi presbyopia derajat tertinggi. Namun, ada beberapa produsen lensa yang menyediakan hingga addisi +3,50.

  1. No trackbacks yet.
View in: Mobile | Standard