PUSAT SOFTLENS MURAH KLIK DI SINI                    <<|>>                    SOFTWARE ADMINISTRASI OPTIK KLIK DI SINI                    <<|>>                    OPTOTIP/SNELLEN DENGAN MONITOR LCD KLIK DI SINI
Web Hosting
Home > Kelainan Penglihatan > Pengendalian Myopia, Berharap Minus Tak Bertambah Terus

Pengendalian Myopia, Berharap Minus Tak Bertambah Terus

Sepertinya tidak ada penderita myopia atau pemakai kacamata minus yang tidak ingin minusnya tidak bertambah terus, syukur-syukur bisa turun, atau bahkan sembuh total tidak perlu kacamata lagi. Bagi penderita myopia kategori sedang maupun berat (> -3,00), berharap agar minusnya bisa menurun drastis atau sembuh adalah hal yang tidak mudah terpenuhi. Hanya Lasik dan metode operatif/surgery lain (Lasek, Keratotomi) yang sudah secara nyata dapat membuktikan keberhasilannya. Tapi itu meminta kompensasi biaya yang masih dirasa sangat mahal bagi sebagian besar kalangan masyarakat. Berharap dari kacamata? Kacamata (berlensa minus) tidak ditujukan untuk menyembuhkan minusnya, tapi untuk mengkoreksi atau memperbaiki ketajaman penglihatan yang terganggu akibat myopia tersebut. Padahal kasus myopia tinggi tidak sekedar berarti kaburnya penglihatan, tapi juga sering diikuti dengan masalah kesehatan mata yang cukup serius. Bahaya robekan dan pengelupasan retina yang mengancam penderita myopia tinggi adalah yang paling serius, bisa mengakibatkan buta total.

Mengingat begitu seriusnya bahaya yang mengikuti kasus myopia tinggi, upaya pengendalian myopia (myopia control) yang bertujuan untuk menekan/menghambat laju pertambahan myopia seminimal mungkin, sudah menjadi pemikiran banyak ahli kesehatan mata sejak dulu. Berbagai studi dan penelitian sudah dilakukan, meskipun ada beberapa metode yang tidak terdokumentasi secara rinci mengenai efektifitasnya. Namun, setidaknya ada beberapa metode yang bisa menjadi bahan pertimbangan bagi para orang tua yang mempunyai anak yang menderita myopia. Mengapa anak-anak yang disasar? Karena pada masa-masa pertumbuhan itulah masih ada harapan untuk ikut mempengaruhi perkembangan fisik mereka, terutama dalam hal ini adalah organ penglihatannya. Myopia yang diderita sejak kecil akan cenderung bertambah seiring dengan pertumbuhan fisik. Jika pertambahannya tergolong cepat, pada saat dewasanya nanti akan bisa berakhir dengan myopia yang sangat tinggi. Meskipun begitu, penderita myopia yang sudah dewasa juga ada baiknya mempertimbangkan pengendalian myopia ini, terutama yang dalam pekerjaanya menuntut penglihatan dekat yang terus menerus.

Ada berapa cara yang disarankan oleh para ahli untuk pelaksanaan pengendalian myopia ini, namun, belum ada kesepakatan tentang satu metode tertentu yang dapat memberi tingkat keberhasilan yang paling memuaskan. Berbagai studi dan penelitian tentang hal tersebut memang masih terus dilakukan hingga saat ini.

  • Ortokeratologi.
    Di beberapa literatur, ortokeratologi sebenarnya mempunyai tujuan untuk “menyembuhkan” myopia yang masih dalam tingkat sangat ringan. Ini bisa ditilik dari metodenya yang merupakan usaha untuk membentuk kelengkungan kornea supaya lebih rata/flat dengan menggunakan lensa kontak rigid/kaku (bukan softlens) yang didesain secara khusus. Lensa kontak yang umumnya dibuat dari bahan yang bersifat high gas permeable (mudah dilalui udara, agar kornea mendapat oksigen yang cukup) ini memiliki kelengkungan dasar yang lebih flat/rata (1.00 - 2.00 D) dari pada kelengkungan kornea pasien. Namun, ada pula beberapa ahli yang menggunakan ortokeratologi ini sebagai salah satu metode pengendalian myopia. Untuk itu, pasien disuruh memakai lensa kontak tersebut pada waktu-waktu tertentu (umumnya malam hari). Di salah satu studi yang dilakukan oleh seorang ahli dari Houston yang didokumentasikan di sini, setiap peserta program yang umurnya bervariasi dari 5 hingga >21 tahun diminta untuk memakai lensa kontak tersebut tiap malam selama 5 tahun. Selama kurun waktu itu, secara periodik pasien diperiksa untuk mengetahui perkembangannya. Hasilnya terlihat cukup memuaskan. 97% dari 519 peserta dinyatakan tidak mengalami pertambahan derajat myopia atau pertambahannya sangat kecil.
  • Menggunakan lensa kontak RGP (Rigid Gas Permeable).
    Meskipun sama-sama menggunakan lensa kontak jenis rigid/kaku, metode yang ini hanya menggunakan lensa kontak RGP yang umum digunakan untuk mengkoreksi kelainan refraksi sebagaimana soflen dan kacamata. Jadi fungsi lensa kontak RGP di sini memang sebagai pengganti kacamata atau soflen. Menurut beberapa studi yang sudah dilakukan oleh para ahli kesehatan penglihatan, pemakaian lensa kontak jenis ini memang dapat mengurangi laju pertambahan myopia, meskipun hasilnya tidak sebagus metode ortokeratologi. Lensa kontak jenis ini juga mampu memberi kualitas penglihatan yang lebih baik dari pada soflen maupun kacamata.
  • Menggunakan lensa bifokal.
    Beberapa ahli sepakat bahwa akomodasi bisa merupakan salah satu faktor penimbul myopia. Akomodasi merupakan aktifitas yang diprakarsai oleh otak sebagai respon dari kondisi out of focus yang terjadi dalam bolamata. Kondisi out of focuss ini terjadi bila obyek yang dilihat oleh mata berada dalam jarak dekat.
    out of focuss
    Otak akan meresponnya dengan mengirimkan perintah ke otot siliaris yang memegang lensa mata untuk berkontraksi sehingga lensa tersebut menjadi lebih gembung dan daya biasnya meningkat. Dengan meningkatnya daya bias tersebut akan membuat titik fokus yang sebelumnya terletak di belakang retina menjadi bergeser maju dan berada tepat di retina. Akomodasi yang terus menerus akan menyebabkan mata cepat lelah, bahkan bisa menimbulkan kekejangan (spasm) akomodasi.
    Pemberian kacamata bifokal sehubungan dengan pengendalian myopia ini dimaksudkan untuk mengurangi beban akomodasi tersebut. Pengurangan beban akomodasi inilah yang diyakini dapat mengurangi laju pertambahan myopia. Namun, di kalangan praktisi optik Indonesia, pemberian kacamata bifokal untuk anak-anak atau remaja mungkin akan dianggap aneh, karena banyak dari mereka yang belum memahami tentang metode pengendalian myopia ini. Di samping itu, kebanyakan orang tua anak-anak tersebut juga cenderung tidak ingin tampang anaknya nampak seperti orang tua. Kedua faktor tersebut menyebabkan metode pengendalian myopia ini agak kurang populer.
  • Menggunakan lensa multifokal.
    Prinsipnya sama dengan penggunaan lensa bifokal, hanya saja pada lensa jenis multifokal/multifokus ini tidak menampakkan garis yang memisahkan area untuk melihat jauh dan area untuk melihat dekat. Bahkan, ada produsen lensa yang mendesain lensa multifokus yang dikhususkan untuk digunakan dalam pengendalian myopia ini. Keberadaan lensa multifokus ini akan dapat menjadi jawaban bagi mereka yang tidak ingin anaknya kelihatan tua dengan lensa bifokal.
  • Metode undercorrection.
    Ini dilakukan dengan memberikan ukuran lensa koreksi yang berdioptri lebih lemah dari seharusnya. Dengan kacamata yang under correction ini, akomodasi pada saat melihat dekat tidak akan sekuat jika memakai kacamata minus dengan ukuran penuh. Namun ini juga harus melalui pertimbangan yang seksama supaya tidak terlalu merugikan penglihatan jauhnya, terutama untuk anak-anak sekolah. Ukuran kacamata minus yang diberikan harus diatur sedemikian rupa agar hanya cukup untuk dapat melihat tulisan di papan tulis.
  • Membatasi pemakaian kacamata.
    Seringnya, penjual kacamata yang kurang dalam pengetahuannya tentang mekanisme penglihatan akan menyarankan agar penderita myopia memakai kacamata minusnya terus menerus. Saran tersebut sebenarnya kurang benar, terutama untuk yang minusnya ringan (-3,00 atau kurang). Myopia disebut juga rabun jauh karena penderitanya akan mengalami kabur penglihatan hanya pada saat melihat jauh. Ini karena titik fokus dalam bola mata tidak tepat pada retina, tapi berada di depan retina. Pada saat melihat dekat (misalnya membaca buku) di mana pada saat itu titik fokus bergeser kebelakang dan lebih dekat ke retina, kacamata minus tidak begitu dibutuhkan lagi. Jika kacamata minus tetap dipakai, titik fokus malah akan terlalu jauh hingga dibelakang retina dan membuat mata harus berakomodasi. Aktifitas akomodasi inilah yang harus banyak dikurangi untuk mengurangi laju pertambahan myopia. Intinya, pakai kacamata minus hanya pada saat benar-benar dibutuhkan.

  • Share/Bookmark

Mengcopy dan mempublish ulang artikel dari website ini diperkenankan, asal menyebutkan/mencantumkan (secara eksplisit) sumbernya serta tidak mengubah judul maupun isi artikel

  1. ayu diyah harni susanti
    September 17th, 2009 at 18:25 | #1

    jika menggunakan kacamata minus hanya pada saat2 diperlukan saja, lalu bagaimana dengan yg menggunakan softlens? kan nggak mungkin tuh ‘lepas-pake’ bolak-balik..

  2. supriyanto
    September 17th, 2009 at 22:48 | #2

    Pak, sekarang beredar kacamata hitam dengan masing2 “lensa”nya dipenuhi dengan puluhan lubang2 kecil, katanya bisa mengurangi minus, apakah itu benar? jika benar, tamatlah riwayat pengusaha optik..

  3. September 19th, 2009 at 12:09 | #3

    @ mbak ayu
    Itulah salah satu kelebihan kacamata dan salah satu kelemahan softlens. Jika tetap memilih memakai softlens, pakailah di saat-saat tidak banyak membutuhkan penglihatan jarak dekat (baca buku, bekerja dengan komputer).

    @ mas supri
    vwhehehe.. kacamata seperti itu sudah muncul beberapa tahun yang lalu mas.. kalau benar-benar manjur, tentunya sudah banyak optikal yang gulung tikar laa..
    di beberapa referensi yang pernah saya baca, tidak satupun ada yang menyebutkan bahwa menggunakan kacamata berpinhole merupakan salah satu metode pengendalian myopia.

  4. October 7th, 2009 at 11:47 | #4

    saya adalah pemakai kacamata minus sejak umur 12 tahun dan telah memakai selamat 25 tahun. Sekarang saya sudah bebas dari kacamata melalui metode pengobatan/terapi alami. Jika anda ingin sembuh silakan hubungi saya di indria_u@yahoo.com atau di FB saya Indriawati Utami

  5. Andy Ow Yang
    November 18th, 2009 at 21:06 | #5

    Gw 16th, gw ngerasa penglihatan gw mulai kabur kira2 wktu gw 13th. . .
    Maka’y gw coba2 beli kacamata minus di toko aksesoris, ukuran’y -1.00D, mksd’y apa yh??
    Truz, setelah pke kacamata itu, rasa’y agak puyeng. . . Knapa yh?? Mungkin karena ukuran minus’y atau karena sempit?? Soal’y kacamata’y agak smpit. . .
    Tolong kirim jawaban’y ke email gw yh. . .

  6. November 19th, 2009 at 11:18 | #6

    buat mata kok coba-coba… :-) maaf.. maaf..
    justru sebelumnya saya pengin tahu, kenapa anda memutuskan memakai ukuran -1.00D?
    puyeng bisa karena ukuran lensa, bisa juga karena setting/pemasangan lensa yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pemakai.. sempit? bisa juga karena itu..

  7. Andy Ow Yang
    November 19th, 2009 at 11:47 | #7

    Kan kata’y miopi bsa bikin retina mata itu rusak. . .
    Klo aq pilih ukuran lensa yg salah, bsa bikin retina mata rusak???
    -1.00D mksd nya apa?? Bsa jelasin. . .??
    Soal’y di toko aksesoris itu, cuman sisa 1kacamata minus. . . Hehehe. . .
    Bukan’y coba2, tpi emank t4 gw tuh t’pencil, gk mungkin bgt ke dokter mata. . .

  8. November 23rd, 2009 at 14:25 | #8

    sependek yang saya tahu, salah ukuran lensa tidak membikin rusak retina lah..
    -1.00D maksudnya ukuran lensanya -1.00 dioptri..
    wooohh.. mbeli di toko aksesoris tho.. untuk kacamata yang dimaksudkan sebagai koreksi penglihatan, sebaiknya bikin di optikal.. ‘tar di situ akan dilakukan pengukuran untuk mengetahui anda harus pakai lensa ukuran berapa dioptri.. nggak harus ke dokter spesialis mata..

  9. Andy Ow Yang
    November 24th, 2009 at 22:53 | #9

    Thank’s yh jawaban’y. . . B’manfaat bgt bgi gw. . .

  10. November 25th, 2009 at 18:46 | #10

    mungkin ada yang mau menjalani operasi lasik silakan di baca dan dapatkan voucher diskon lasik di http://ro.icarelasik.co.id/?id=wanti

    tks

  11. edo satria
    December 7th, 2009 at 02:29 | #11

    Gw tuh pengen bgt berkacamata, tp mata gw msh normal, apakah kalo kita sering nyobain kcmta tmn dng lensa minus bisa ketularan minus juga, thanks jwbnnya

  12. December 8th, 2009 at 00:06 | #12

    lha, kalau pengin pake kacamata kan tinggal beli trus pake tho ‘Bro.. nggak perlu harus nunggu rabun dulu.. :-)
    enggak lah.. myopia ituh sebenernya tidak bisa dianggap penyakit, seperti halnya pincang yang juga bukan penyakit.. jadi, myopia ituh nggak menular.. kalok njenengan *anda* berkali-kali memakai sepatu milik orang pincang juga nggak bakalan ketularan pincang..

  13. vita
    December 10th, 2009 at 14:25 | #13

    apa pengaruhnya jika kita sering pakai kacamata minus padahal mata kita masih normal?

  14. December 13th, 2009 at 12:13 | #14

    Jika mata memang benar2 tidak myopia, menempatkan lensa minus di depan kornea (termasuk memakai kacamata minus tentunya) akan membuat fokus yang dihasilkan oleh sistem optis bolamata menjadi mundur dan terletak dibelakang retina. Kondisi ini akan memicu proses akomodasi mata. Akomodasi mata yang berlangsung terus menerus akan membuat mata menjadi cepat lelah dan tidak nyaman. Kondisi ini akan lebih berat lagi jika kacamata minus tersebut digunakan untuk melihat dalam jarak dekat (baca buku misalnya).

  15. Andy Ow Yang
    December 26th, 2009 at 05:43 | #15

    Bleh minta bantuan lgi??
    Kata’y klo gk sgera ditangani, minus bsa sebabkan retina mata rusak. . .
    Jika saya blum bsa prgi ke optik, kacamata yg saya bli di toko aksesoris itu sebaik’y truz dipake atau tidak?? Walaupun ukuran lensa’y tdk sesuai, paling tdk bsa mengoreksi penglihatan saya. . . Mohon jawaban’y. . . Thank’s sebelum’y. . .

  16. December 26th, 2009 at 08:29 | #16

    Sebenarnya begini, yang berpotensi menyebabkan kerusakan retina (robekan/pengelupasan) adalah myopia yang disebabkan oleh dimensi bola mata yang memanjang. Jadi bukan myopianya itu sendiri, karena kondisi myopia itu merupakan akibat dari dimensi bola mata yang lebih panjang dari idealnya. Kasus kerusakan retina kebanyakan terjadi pada penderita myopia tinggi (>6,00D).
    Mengenai kacamata yang sudah terlanjur dibeli, sejauh ukuran lensanya tidak melebihi dari yang dibutuhkan, boleh saja dipakai. Berhubung anda kesulitan untuk mendapatkan optikal yang bisa mengetahui secara persis mengenai hal itu, ya pakai patokan yang mudah aja: asal tidak menimbulkan ketidaknyamanan, silahkan pakai.

  17. Sasha
    May 12th, 2010 at 03:14 | #17

    Apakah pengobatan alami sprti dlm bku pengobatan alamiah untuk pemakai kacamata oleh harry benjamin, benar-benar bisa menyembuhkan myopia?

  18. May 12th, 2010 at 07:31 | #18

    Sampai saat ini, saya belum pernah menemui bukti atau keterangan ilmiah yang dapat meyakinkan bahwa suplemen/obat dapat menyembuhkan kelainan refraksi (myopia,hypermetropia,astigmatisme).
    Kelaianan refraksi mungkin dapat dianalogikan dengan pincang. Jika pincang tersebut disebabkan oleh terkilir, tentu pincangnya akan dapat disembuhkan dengan menyembuhkan terkilirnya. Namun jika pincangnya disebabkan oleh bentuk kedua kaki yang kurang sempurna, pincangnya hanya akan dapat disembuhkan dengan menyempurnakan bentuk kedua kaki tersebut. Menyempurnakan bentuk kaki tentu tidak bisa dengan sekedar minum obat/suplemen kan?

  19. aji
    July 13th, 2010 at 11:29 | #19

    pagi mass ..
    optik nisna menerima pemasangan lensa ga ya ?
    soalnya saya punya frame nganggur dirumah, daripada gak kepake, mending saya pasang lensa saja …
    makasih atas jawabannya …

  20. July 13th, 2010 at 15:27 | #20

    bisa mas.. silahkan bawa saja frame-nya ke optik nisna..

  21. erfi
    October 7th, 2010 at 19:27 | #21

    Mau tanya mas,…
    kedua mata saya myopia dengan ukuran minus yg cukup tinggi, utk ukuran kacamata terbaru R: -10 tanpa cylinder, L:-8.25 cyl 0.75. Sedangkan ukuran softlense terbaru R : -8.5 & L : -7.5 (tanpa cyl).

    Naah,… sejak setahun yll kalau pakai softlense saya sering pusing kalau harus baca jarak dekat dalam waktu yg lama (> 2-3 jam). Sedangkan kalau pakai kacamata yang lama (R: -9.0 & L : -7.5 cyl 0.5) tidak ada masalah. Setelah saya konsultasi ke optik, dan diperiksa saya dikasih add : +1 & saya dianjurkan untuk memakai kacamata saja… dengan beli kacamata 1 lagi utk ukuran yg terbaru. Sarannya kalau utk jarak jauh (nyetir , nonton dsb) pakai kacamata yg ukuran terbaru, tapi utk baca dekat, komputer dll pakai kacamata yg lama.

    Masalahnya, saya tidak suka pakai kacamata, karena alasan ribet, tidak praktis, berat (mengingat lensanya cukup tebal) dll. Pertanyaan saya… bisakah saya tetap memakai softlense dengan ukuran yg sekarang tapi utk kenyamanan baca dekat dll baru saya pakai kacamata add +1.00. Apakah ada masalah bila menggunakan kacamata + di atas mata yg menggunakan softlense lensa - ? Atau, apakah ada saran yg lain ?

    Oyaa,.. usia saya 37thn, apakah benar sy termasuk presbiyop dini dengan usia yg belum 40 thn ?

    Terima kasih banyak sebelumnya.

  22. October 8th, 2010 at 08:22 | #22

    pertanyaan anda sudah terjawab di posting yang lain..

    Mohon lain kali tidak menulis pertanyaan yang sama di 2 artikel yang berbeda..

  23. hendra
    February 29th, 2012 at 08:13 | #23

    bila saya rabun jauh minus 300 atau 350, itu termasuk minus ringan atau berat? apakah untuk minus sebesar itu, penggunaan juga dibatasi untuk penglihatan jarak dekat seperti lihat monitor komputer, televisi dan baca buku? terima kasih sebelumnya.

  24. February 29th, 2012 at 11:57 | #24

    -3,25 s/d -6,00 termasuk sedang..
    jika pekerjaan se-hari2 menutut aktifitas melihat dekat dalam waktu lama, sebaiknya secara berkala (setiap 30 mnt) tetap mengistirahatkan dengan cara mengarahkan pandangan ke arah jauh (> 6m)

  25. hendra
    March 1st, 2012 at 14:49 | #25

    @paknenisna
    berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengistirahatkan mata dengan mengarahkan pandangan ke arah jauh? bagaimana mengatasi solusi ganjalan kacamata yang terlalu ketat? setiap melepas kacamata, selalu tampak bekas yang sangat merah di bagian atas hidung?

  26. March 1st, 2012 at 20:08 | #26

    5 menit cukup untuk merelaksasikan mata dari akomodasi..
    silahkan bawa ke optikal, sampaikan keluhan anda langsung ke optisinya dengan jelas, biar optisi yang menyetel kacamata anda..

  27. Chiery
    March 18th, 2012 at 14:04 | #27

    Kalo ingin melakukan ortokeratologi itu apa sudah bisa dilakukan di sini?

  28. November 10th, 2012 at 10:38 | #28

    ikut menyimak gan

  29. Yeyen
    February 25th, 2014 at 10:21 | #29

    Terimakasih ^_^ info yang sangat berguna (y) mantap :D

  30. Anisa
    March 20th, 2014 at 21:55 | #30

    Saya umur 13 tahun kelas 2 smp. Saya memakai kacamata dari kelas 6 sd sdah mints (-3) sekarang saya kealas 2smp mint saya bertambah bahkan ada silinders nya, sekarang sampai -7 dan 6.35(mints) 1 dan 1.25 (silinder) . Saya minta saran nya agar mints saya cepat hilang dan agar tidak bertambah parah

  31. Arma
    March 29th, 2014 at 04:27 | #31

    Minus saya 2.25 , itu termasuk minus berat atau ringan ?
    Trus apaa kah ada cara untuk.mengurangi.ukuran minus hehe
    Mohon saran nyaa yaa

  32. April 1st, 2014 at 12:45 | #32

    sampai dengan -3,00 termasuk ringan..
    cara mengurangi minus, yang paling bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah adalah dengan tindakan LASIK.
    Agar minus tidak bertambah dengan cepat:

    1. 1.membaca dengan penerangan yang cukup.
    2. 2.hindari aktifitas melihat dekat (membaca, chatting, nonton filem di hp/laptop, nge-game) secara terus-menerus dalam waktu lama.
    3. 3.jika membaca dalam waktu lama, setiap 30 menit mata diistirahatkan dengan cara melihat ke arah jauh selama 5 menit.

Komentar atau pertanyaan, tulis di sini


Bila tidak sesuai dengan topik yang sedang dibahas, mungkin tidak akan direspon. Yang bernada spamming akan segera dihapus.