PUSAT SOFTLENS MURAH KLIK DI SINI                    <<|>>                    SOFTWARE ADMINISTRASI OPTIK KLIK DI SINI                    <<|>>                    OPTOTIP/SNELLEN DENGAN MONITOR LCD KLIK DI SINI
Web Hosting
Home > Kacamata > Lensa Aspheric, Apanya Yang Lebih Menarik?

Lensa Aspheric, Apanya Yang Lebih Menarik?

Lensa kacamata, selain diklasifikasikan menurut bahan, jumlah fokus, indeks bias, dan warnanya, juga dibedakan menurut bentuk/desain kelengkungan permukaannya. Kalau masih agak bingung dengan yang dimaksud “kelengkungan permukaan”, boleh juga difahami dengan bentuk kecembungan/kecekungan.

  1. Lensa Sferik (Spheric lens).
    Ini adalah bentuk lengkung permukaan lensa yang sangat umum dan masih banyak digunakan hingga saat ini. Lensa sferis mempunyai bentuk lengkung permukaan yang beraturan sebagaimana bentuk radius lingkaran, dari pusat lensa hingga ke bagian pinggir (perifer) lensa. Jadi, kedua permukaan lengkung lensa (tentu anda ingat bahwa lensa mempunyai 2 permukaan lengkung, depan dan belakang) masing-masing hanya memiliki 1 pusat kelengkungan.
    bentuk lengkung sferis
  2. Lensa Asferik (Aspheric lens).
    Lensa asferik, yang sebenarnya telah diperkenalkan secara fisik sejak tahun 1620, mempunyai bentuk kelengkungan permukaan yang tidak sferikal. Salah satu atau kedua permukaannya bisa memiliki lebih dari 1 pusat kelengkungan. Penggambaran secara sederhana untuk memperlihatkan bentuk prinsip dari lensa asferik, dapat dilihat pada ilustrasi di bawah ini.
    bentuk lengkung asferis
    Karena desain kelengkungan lensa ini juga dapat memberi unjuk kerja optis (selain bentuk fisiknya yang menjadi lebih datar dan tipis) yang lebih bagus dibanding lensa konvensional, maka ia pun masuk juga ke ranah perkacamataan. Namun, kelebihan unjuk kerja ini sepertinya kurang “menjual” nilai plus jenis lensa ini sehingga para produsen lensa kacamata (mungkin lebih tepatnya: divisi marketing-nya) lebih suka mengembar-gemborkan bahwa lensa ini lebih tipis dari pada lensa konvensional, karena issue ini jelas jauh lebih menarik perhatian para pemakai kacamata. Bagaimana lensa asferik menjadi lebih tipis dari pada lensa biasa, mungkin akan dapat difahami dengan lebih mudah jika mengamati ilustrasi di bawah ini (bikin alasan supaya tidak perlu menyusun banyak kata untuk menjelaskan 🙂 )
    (lagi pula, sudah susah-susah menyusunnya, dengan mudah-mudah orang mengkopi-pastenya 😛 dan mempublishnya kembali tanpa merujukkan ke sumber aslinya)
    (ih, jadi curhat)
    (oh iya, ini gambarnya)
    perbandingan ketebalan lensa sferik dan asferik

Mengcopy dan mempublish ulang artikel dari website ini diperkenankan, asal menyebutkan/mencantumkan (secara eksplisit) sumbernya serta tidak mengubah judul maupun isi artikel

Categories: Kacamata Tags:
  1. April 13th, 2009 at 17:15 | #1

    Tambah bagus aja pak websitenya. Informatif Pula…. Semoga selalu bermanfaat…

  2. April 14th, 2009 at 14:21 | #2

    laah.. tambah bagus sih mungkin iya.. tapi “strata bagus”nya ituh yang mingsih belum selevel dengan blog2 senior yang lain.. saya kan cuma senior di umur doang.. bukan kemampuan.. 🙂
    Kalo soal informatif, mudah2an bisa begitu deh.. Trim’s atas doa dan mampirnya ya..

  3. Supriyanto
    April 29th, 2009 at 23:33 | #3

    Pak, kenapa lensa di trial lens permukaan luarnya gak rata? coba perhatikan lensa sferis – 20.00 di trial lens, permukaan depannya gak rata (bagian tengahnya menjorok ke dalam), tapi kalo lensa yang -20.00 setelah di pasang ke frame kacamata permukaannya nampak rata?

  4. April 30th, 2009 at 17:16 | #4

    Yang di trial lens dibuat biconcave dengan base curve yang lebih minus dari pada lensa yang diaplikasikan pada kacamata. Tujuannya supaya trial lens tidak terlalu tebal dan berat.

  5. May 25th, 2009 at 23:42 | #5

    berkunjung malam malam, tadinya nyasar …. muup ya…

  6. Zaky
    May 30th, 2009 at 11:11 | #6

    Tersenyum dulu ah hi hi hi… La udah susah bikin artikel dan gambar kok ditampilkan di internet? ya pasti di copy dong…kalau tak boleh di copy ya udah hentikan aja bikin membikin artikel… hi hi hi kan beres. Katanya mau bikin pinter orang ? Ya udah matikan aja komputer nih tak usah mikir apa-apa kan enak he he.. Kalau bikin dan berikan sesuatu yang ikhlas jangan nanggung-nanggung..emang internet punya siapa sih…kan orang banyak.. saran kita mari belajar bersama tiada yang merasa lebih pandai atau pintar di muka bumi ini yang penting saling mendukung walau kita susah-susah bikin sesuatu..toh tujuan kita adalah membuat pinter orang…pahala di akherat yg kita dapatkan..he hee idep-idep tabuungan amal kita lah.

  7. May 31st, 2009 at 05:56 | #7

    halo sobat…blogwalking sambil baca-baca di bllog nya yg bgs ini..mampie and follow ya blogku

  8. May 31st, 2009 at 13:45 | #8

    @zaky:
    🙂
    Coba fahami pernyataan saya pada artikel di atas secara utuh, tidak secara parsial. Saya tidak pernah keberatan artikel saya dikopi, yang keberatan adalah: dipublikasikan lagi dengan tanpa merujuk/menyebutkan sumber aslinya. Bukankah itu sama dengan mengakui karya orang lain sebagai karya sendiri? Kalau anda berada pada posisi sebagai pemilik suatu ide atau karya yang spesifik, tentunya anda juga tidak rela kan kalau ada orang lain yang mengakui ide/karya anda itu sebagai karya dia?

    @kenny:
    matur tengkiu dah mampir.. Insya Allah berkunjung balik..

You must be logged in to post a comment.