PUSAT SOFTLENS MURAH KLIK DI SINI                    <<|>>                    SOFTWARE ADMINISTRASI OPTIK KLIK DI SINI                    <<|>>                    OPTOTIP/SNELLEN DENGAN MONITOR LCD KLIK DI SINI
Web Hosting
Home > Kelainan Penglihatan > Hasil Periksa Mata Dengan Komputer, Valid kah?

Hasil Periksa Mata Dengan Komputer, Valid kah?

Beberapa tahun silam, suatu produk barang atau jasa yang prosesnya diembel - embeli “dengan komputer”, oleh sebagian (sangat) besar masyarakat kita akan dipandang sangat canggih dan akurat. Begitu juga ketika embel - embel itu merasuki ranah refraksi optisi (gampangnya: per-optik-an), seringkali ada pasien yang membatalkan diri untuk periksa mata gara - gara “periksa mata (tidak) dengan komputer”.
autorefraktometer

autorefraktometer aka “komputer”

Namun yang terjadi kemudian adalah seperti ironi, mungkin bisa dibilang lucu. Setelah banyak pemakai kacamata (yang dibuat berdasarkan hasil periksa mata dengan komputer itu) mengeluh kacamatanya tidak nyaman dipakai, maka kemudian banyak praktisi peroptikan yang menjadi tidak percaya dengan kinerja komputer tersebut. Mereka pun mengulangi proses pemeriksaan yang sudah dilakukan dengan komputer tersebut dengan menggunakan trial set (secara manual). Ketika hal itu ditanyakan oleh pasiennya, banyak pula dari mereka yang berkilah secara asal, yang tidak menunjukkan bahwa mereka paham dengan ilmu pemeriksaan refraksi mata: “Komputer itu terlalu peka, sehingga ukuran kacamata yang dihasilkannya menjadi terlalu tinggi dan berat ketika dipakai”.

Bagaimanakah yang terjadi sebenarnya?
Auto refraktometer, yang sering disebut (secara awam) dengan komputer itu, sebenarnya adalah salah satu instrumen untuk pemeriksaan refraksi secara obyektif, dan digunakan pada saat tahap pemeriksaan secara monokuler (satu mata). Monokuler? Bukankah kedua mata pasien terbuka pada saat diperiksa dengan autorefraktometer? Betul.. tapi, kalau diperhatikan, autorefraktometer tidak memeriksa kedua mata secara bersamaan, melainkan bergantian antara mata kanan dan mata kiri. Sedangkan prosedur pemeriksaan refraksi secara lengkap adalah dengan melaksanakan tahap pemeriksaan secara monokuler, dan dilanjutkan tahap pemeriksaan secara binokuler (kedua mata terbuka).

Pemeriksaan secara binokuler ini bisa dilakukan dengan trial set atau dengan porophtor (refraktometer, bukan yang auto). Pada tahap ini, ada 4 macam pengujian yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Uji keseimbangan penglihatan.
    Antara mata kanan dan kiri sedapat mungkin mempunyai kemampuan yang sama.
  2. Uji akomodasi konvergensi.
    Ukuran lensa hasil pemeriksaan refraksi tidak boleh menyisakan akomodasi konvergensi.
  3. Uji distorsi.
    Ukuran lensa hasil pemeriksaan refraksi sedapat mungkin tidak menimbulkan distorsi penglihatan yang mengganggu kenyamanan penglihatan.
  4. Uji baca dekat.
    Ukuran lensa hasil pemeriksaan refraksi juga harus memberikan penglihatan jarak dekat (jarak untuk membaca dekat, ±33cm) yang baik.

Jadi, ukuran yang dihasilkan oleh periksa mata dengan komputer (autorefraktometer) sebenarnya tidak valid jika langsung diaplikasikan untuk ukuran lensa kacamata atau lensa kontak. Karena itu baru sebagian dari keseluruhan tahap pemeriksaan refraksi. Jika tahap pemeriksaan selanjutnya tidak dilaksanakan, hasilnya adalah keluhan tidak nyaman, pusing, berat dan sebagainya akan dikomplainkan oleh pasien.

Autorefraktometer adalah alat yang canggih, yang dibuat untuk memperbaiki ketepatan dan kecepatan dalam melaksanakan pemeriksaan refraksi mata. Adalah tidak bijak jika menjadikannya kambing hitam untuk menutupi ketidaktahuan kita.

  • Share/Bookmark

Mengcopy dan mempublish ulang artikel dari website ini diperkenankan, asal menyebutkan/mencantumkan (secara eksplisit) sumbernya serta tidak mengubah judul maupun isi artikel

  1. supriyanto
    November 12th, 2008 at 20:51 | #1

    apa definisi akomodasi konvergensi dan distorsi penglihatan?

  2. Supriyanto
    December 21st, 2008 at 16:50 | #3

    kenapa autorefraktometer tidak bisa memeriksa ADD?

  3. December 23rd, 2008 at 10:58 | #4

    Pemeriksaan addisi dilakukan secara binokular, sedangkan saat ini kebanyakan autorefraktometer menggunakan sistem pemeriksaan secara monokular. Di samping itu, software yang dipakai di kebanyakan autorefraktometer juga belum mampu digunakan untuk mengukur penglihatan jarak dekat/baca.

  4. pandu
    March 18th, 2009 at 19:55 | #5

    Mas Paknenisna, jawabannya tepat dan masuk akal, lulusan RO mana Mas?saya Leprindo Jakarta tahun 2007, masih junior, pingin punya optik tapi modal masih sedengkul,aku kerja di RS.Siloam Tangerang.Mas sendiri pakai autoref nggak? orang awam mah taunya asal yg berbau komputer canggih pasti akurat…padahal kita sebagai praktisi yg ngerti tidak berpatokan sepenuhnya pada komputer…hasil akhir dimodifikasi dengan binokulair, dibalancing,dan duke elder test…..

  5. March 19th, 2009 at 12:51 | #6

    Vwhehehehe.. saya juga lulusan tahun 2007 kok.. dari Program Khusus Angkatan I yang diselenggarakan oleh ARO Widya Husada, Semarang. Hanya saja, saya dah berada di optikal sejak tahun 1993. Habis lulus kemarin sempat asistensi dosen Klinik Refraksi selama 5 semester, di Pendidikan RO yang diselenggarakan Stikes HAKLI, Semarang (juga).
    Leprindo yang (dulu) di Legoso ya? Mahasiswanya pak Auliansyah dunk.. :-)
    3 adik ipar saya lulusan Leprindo juga, 2 lagi lulusan Widya Husada.
    Saya belum punya autorefraktometer, tapi sudah punya komputer buat pemeriksaan refraksi :-) Penasaran? silahkan lihat di bagian Infoptika. Kebetulan saya juga [rada] suka otak atik komputer.

  6. pandu
    March 19th, 2009 at 14:15 | #7

    ya, saya mahasiswanya pak Aul (Bagindo Auliansyah) pas tingkat III(prog.reguler), tapi sebelumnya saya 3 tahun kerja di optik melawai & AKASOEM Cikini Optik,masih di Legoso Ciputat ARO Leprindo, wah Mas LCD nya bikin ndiri? keren amat>>kalo bisa bikin ndiri mo dijual berapa tuch??jadi mupeng…

  7. March 19th, 2009 at 18:46 | #8

    Wohh.. mingsih di Legoso toh..
    Monitor LCDnya mah mbeli, bukan bikin sendiri :-) yang hasil utak atik mah s/w optotype-nya. Kalau berminat, 1,8jt sudah termasuk monitor LCD 15″ (belum termasuk ongkos kirim) tapi njenengan harus dah punyak PC (komputer) dengan OS Windows. Kalau sudah punyak LCD monitor sendiri, tinggal sebutin ukuran display, resolusi, dan ukuran pixel/dot-nya. S/w dipaket dalam CD, harganya 275rb. Tersedia tipe regular dan mirror (terbalik, untuk ruang refraksi sepanjang 3 m)

  8. pandu
    March 21st, 2009 at 16:39 | #9

    ohh..ngono tohh…tak kira bikin ndiri mas,jago amat…iya deh ntar kalu minat saya hubungin Paknenisna aja deh, saya minat softwarenya,saya komputer udah punya + LCD, saya juga punya impian punya optik yg canggih,canggih tapi nggak mesti mahal..ya..kaya punya paknenisna ini…simpel..tapi canggih…

  9. meey
    March 27th, 2009 at 19:01 | #10

    klo ada perbedaan hasil pemeriksaan dg menggunakan komputer dengan pemeriksaan krtu snellen.
    itu kra2 gmana ?

  10. March 27th, 2009 at 21:07 | #11

    Sangat wajar. silahkan mBak Meey baca lagi secara seksama artikel di atas

  11. April 21st, 2009 at 08:42 | #12

    aku kok gak ngerti sama sekali yah..

    trus yang valid tetep pake komputer gitu?

  12. April 22nd, 2009 at 17:43 | #13

    yang valid ya yang memenuhi seluruh prosedur pemeriksaan refraksi Mas.. pakai autorefraktometer (komputer) atau tidak, sama saja.

  13. September 13th, 2011 at 21:34 | #14

    bagaimana dengan mata silinder? caranya gimana tooooooww? aku kok gak tau yua haha

  14. September 14th, 2011 at 13:53 | #15

    Untuk mata silinder, sama saja. Cara pemeriksaan mata silinder secara benar dan lengkap, bisa dipelajari di Akademi Refraksi Optisi.

Komentar atau pertanyaan, tulis di sini


Bila tidak sesuai dengan topik yang sedang dibahas, mungkin tidak akan direspon. Yang bernada spamming akan segera dihapus.