<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>OPTIK NISNA</title>
	<atom:link href="http://www.optiknisna.info/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.optiknisna.info</link>
	<description>¯¯¯¯¯\____GLASSES EXPERT____/¯¯¯¯¯</description>
	<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 05:29:02 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Kalkulator Ukuran Softlens</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/kalkulator-ukuran-softlens.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/kalkulator-ukuran-softlens.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 09:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lensa Kontak]]></category>

		<category><![CDATA[kalkulator]]></category>

		<category><![CDATA[softlens]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.optiknisna.info/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa kali mendapat pertanyaan mengenai ukuran(dioptri) softlens yang harus dipakai, akhirnya terpikir untuk membuat program kalkulator yang dapat menghitung ukuran softlens berdasarkan hasil pemeriksaan refraksinya (atau ukuran kacamatanya). Inginnya, kalkulator tersebut dapat dipakai secara umum, melalui halaman web di internet.

Setelah iseng-iseng dengan javascript beberapa saat, jadilah kalkulator sederhana seperti di bawah ini. Kalkulator ini sebenarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/lensakontak1.jpg" align="top"/>Beberapa kali mendapat pertanyaan mengenai ukuran(dioptri) softlens yang harus dipakai, akhirnya terpikir untuk membuat program kalkulator yang dapat menghitung ukuran softlens berdasarkan hasil pemeriksaan refraksinya (atau ukuran kacamatanya). Inginnya, kalkulator tersebut dapat dipakai secara umum, melalui halaman web di internet.<br />
<br />
Setelah iseng-iseng dengan <em>javascript</em> beberapa saat, jadilah kalkulator sederhana seperti di bawah ini. Kalkulator ini sebenarnya hanya menghitung <em>effective power</em> dari ukuran dioptri lensa kacamata (atau hasil pemeriksaan refraksinya), dengan setelan <em>vertex distance</em> sebesar 12mm.<span id="more-223"></span> Berhubung softlens yang tersedia di pasaran memiliki step ukuran 0,25 atau 0,5, tentunya anda harus mencari yang nilainya paling mendekati dengan hasil perhitungan kalkulator ini.<br />
<br />
Ketikkan ukuran kacamata di kotak sebelah kiri. Untuk ukuran minus, harus mengetikkan tanda minus (-) sebelum angka. Sedangkan untuk ukuran plus, cukup masukkan angka saja. Untuk memberi tanda desimal, gunakan <strong>titik (.)</strong> , bukan koma. Klik tombol <strong>&#8220;=&#8221;</strong> setelah selesai mengetikkan ukuran kacamata, maka, kotak sebelah kanan akan menampilkan ukuran untuk softlens.<br />
</p>
<div style="width:250px; height:144px; display:blok; margin-top:5px; margin-right:auto; margin-bottom:5px; margin-left:auto;">
<form name="effpwrcalc" method="get">
<table width="180px" cellspacing="0" cellpadding="3" border="4" align="center" bgcolor="#CBE7DE">
<tr bgcolor="#1B3B3B">
<td width="90px">
<p align="center">
<input name="lenspwr" size="5" type="text" value="-0.00" onfocus="select" style="font-size:22px; color:#FFFFDF; background: #1A3F4F; text-align:center;"/><font color="#FFFFFF">kacamata</font></p>
</td>
<td width="90px">
<p align="center">
<input name="effpwr" size="5" type="text" value="" readonly="readonly" style="font-size:22px; color:#FFFFDF; background: #1A3F4F; text-align:center;"/><font color="#FFFFFF">softlens</font></p>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#CBE7DE">
<td width="180px" colspan="2">
<p align="center">
<input value="=" onclick="effpower(this.form)" type="button" style="width:56px; font-weight:bold; font-size:17px;"/>
<br />
www.optiknisna.info</p>
</td>
</tr>
</table>
</form>
</div>
<p>
Oh, ya.. untuk yang berukuran cylinder (maks. C -1,00) juga, setengah dari ukuran cylinder-nya ditambahkan ke ukuran minusnya (atau plusnya), baru lakukan penghitungan.<br />
Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/kalkulator-ukuran-softlens.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>[Lanjutan] Lensa Minus Kok Cembung, Harusnya Kan Cekung?</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/lanjutan-lensa-minus-kok-cembung-harusnya-kan-cekung.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/lanjutan-lensa-minus-kok-cembung-harusnya-kan-cekung.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 07:02:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[bi-konfek]]></category>

		<category><![CDATA[bi-konkaf]]></category>

		<category><![CDATA[konfek-konkaf]]></category>

		<category><![CDATA[lensa cekung]]></category>

		<category><![CDATA[lensa cembung]]></category>

		<category><![CDATA[lensa kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[lensa minus]]></category>

		<category><![CDATA[lensa plus]]></category>

		<category><![CDATA[plan-konfek]]></category>

		<category><![CDATA[plan-konkaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.optiknisna.info/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Di artikel yang ini, sudah dibahas dan dibuktikan bahwa meskipun lensa kacamata dibuat [nampak]cembung, ia juga tetap bisa berukuran minus sebagaimana lensa konkaf (concave). Bentuk lensa seperti itu disebut lensa konfek-konkaf, yaitu lensa yang memiliki permukaan cembung dan cekung (ingat-ingat lagi pelajaran fisika tentang lensa, ketika SLTA). Lensa-lensa untuk kacamata, kebanyakan menerapkan bentuk seperti itu.

Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/lensa-minus-kok-cembung-harusnya-kan-cekung.html">artikel yang ini</a>, sudah dibahas dan dibuktikan bahwa meskipun lensa kacamata dibuat [nampak]cembung, ia juga tetap bisa berukuran minus sebagaimana lensa konkaf (<em>concave</em>). Bentuk lensa seperti itu disebut lensa konfek-konkaf, yaitu lensa yang memiliki permukaan cembung dan cekung (ingat-ingat lagi pelajaran fisika tentang lensa, ketika SLTA). Lensa-lensa untuk kacamata, kebanyakan menerapkan bentuk seperti itu.<span id="more-179"></span><br />
<img class="alignleft" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/konfekkonkaf.jpg" alt="lensa konfek-konkaf" title="lensa konfek-konkaf" /><br />
Ada beberapa alasan mengapa bentuk lensa kacamata dibuat seperti itu.</p>
<ol>
<li>Untuk membuat agar lensa lebih mampu menahan tekanan/benturan yang datangnya dari arah depan kacamata. Yang faham dengan teknik konstruksi mungkin akan mudah memahami alasan ini. Namun, bagi yang kurang faham, boleh praktekkan percobaan sederhana dengan penggaris/mistar plastik tipis yang diilustrasikan berikut ini.<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/lurusdanlengkung.jpg" align="middle" alt="lurus dan melengkung" /><br />
Dengan memahami penjelasan alasan ini, tentunya juga akan memaklumi bahwa lensa kacamata yang terlihat rata akan lebih mudah pecah dibanding lensa kacamata yang tampak melengkung/cembung.</li>
<li>Untuk menjaga agar <em>vertex distance</em> (jarak antara permukaan[belakang] lensa ke kornea) tidak banyak berubah ketika mata melirik, terutama ke kanan dan ke kiri.<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/liraklirik.jpg" align="middle" alt="kestabilan vertex distance" /><br />
Perubahan jarak tersebut akan merubah ketajaman bayangan/gambar yang terbentuk di retina mata, sehingga dengan demikian juga akan mengganggu ketajaman penglihatan.</li>
<li>Untuk memberi tambahan jarak agar bulu mata tidak menyentuh permukaan belakang lensa. Selain dapat membuat kurang nyaman, permukaan belakang lensa akan menjadi kotor oleh sentuhan bulu mata yang basah oleh keringat atau minyak.</li>
</ol>
<p>Meskipun memiliki beberapa kelebihan seperti di atas, lensa kacamata yang dibuat dengan bentuk konfek-konkaf akan cenderung lebih <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/tag/ketebalan-lensa" target="blank">tebal</a> dari pada yang berbentuk plan-konkaf, plan-konfek, bi-konkaf, ataupun bi-konfek. Karena itu, lensa kacamata yang berukuran dioptri tinggi (>6,00 D) biasanya tidak akan dibuat dengan bentuk tersebut. Lensa minus tinggi akan dibuat dalam bentuk plan-konkaf atau bi-konkaf, sedangkan lensa plus tinggi akan dibuat dalam bentuk plan-konfek atau bi-konfek.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/lanjutan-lensa-minus-kok-cembung-harusnya-kan-cekung.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kurang Benar Pilih Softlens Yang Paling Besar</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/kurang-benar-pilih-softlens-yang-paling-besar.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/kurang-benar-pilih-softlens-yang-paling-besar.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 14:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lensa Kontak]]></category>

		<category><![CDATA[diameter kornea]]></category>

		<category><![CDATA[diameter softlens]]></category>

		<category><![CDATA[kornea]]></category>

		<category><![CDATA[softlens]]></category>

		<category><![CDATA[softlens terbesar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.optiknisna.info/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini, ketika klinong-klinong (jalan-jalan) di jagat internet untuk mengintip-intip pasaran softlens di kancah penjualan [secara]online, sering kali saya menemukan iklan/penawaran yang berkesan mengunggulkan produk softlens tertentu yang memiliki diameter terbesar dari yang sudah ada. Menurut saya, iklan seperti itu akan menyesatkan para pemakai softlens yang kurang memahami tujuan adanya spesifikasi softlens yang berbeda-beda.

Sebagaimana postur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini, ketika <em>klinong-klinong</em> (jalan-jalan) di jagat internet untuk mengintip-intip pasaran <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/softlens-salah-satu-jenis-lensa-kontak.html" target="blank">softlens</a> di kancah <a class="post-link" href="http://www.softlensku.com" target="blank">penjualan [secara]online</a>, sering kali saya menemukan iklan/penawaran yang berkesan mengunggulkan produk softlens tertentu yang memiliki diameter terbesar dari yang sudah ada. Menurut saya, iklan seperti itu akan menyesatkan<span id="more-182"></span> para pemakai softlens yang kurang memahami tujuan adanya spesifikasi softlens yang berbeda-beda.<br />
<br />
Sebagaimana postur tubuh orang yang berbeda-beda, ukuran organ-organ tubuh antara satu orang dengan yang lainnya tentu juga banyak yang tidak sama. Jangankan dengan orang lain, pada orang yang sama pun kadang ketidaksamaan tersebut juga bisa terjadi. Demikian juga halnya dengan mata. Ukuran diameter kornea, tempat di mana softlens ditempelkan, tiap-tiap orang bisa tidak sama. Karena anatomi kornea ini bentuknya sedikit menggunung/menonjol dari bola mata, maka tentunya akan memiliki kurvatur/kelengkungan yang lebih kecil dari pada kelengkungan bola mata. Berhubung BC (<em>base curve</em>, kelengkungan dasar) softlens pada umumnya didesain dengan merujuk pada kurvatur kornea, maka jika ukuran diameter softlens terlalu melebihi diameter kornea, bagian keliling lingkaran softlens akan lebih banyak menempel di sklera (bagian mata yang nampak berwarna putih), jauh di pinggir kornea, sehingga kedudukannya akan lebih ketat/erat dari yang seharusnya.<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/diasoflen.jpg" align="middle" alt="gambaran bentuk kornea" /><br />
Softlens yang kedudukannya terlalu ketat/erat, selain menimbulkan ketidaknyamanan juga dapat mengganggu sirkulasi air mata di antara softlens dan kornea. Kotoran/debris yang terjebak di antara kornea dan softlens akan tidak dapat terbilas. Bahkan bisa membuat kornea kekurangan oksigen.<br />
<br />
Karena alasan itulah pemilihan ukuran <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/diameter-softlens-yang berbeda-beda-apa-pengaruhnya.html" target="blank">diameter softlens</a> yang akan dipakai seharusnya juga memperhitungkan ukuran diameter kornea. Pengukuran diameter kornea sebenarnya cukup mudah, yaitu dengan mengukur diameter penampakan arah horisontal dari lingkaran iris (<em>horisontal visible iris diameter</em>). Cukup dengan mistar berskala milimeter.<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/diakornea.jpg" align="middle" alt="mengukur diameter kornea" /><br />
Diameter softlens yang direkomendasikan adalah dari hasil pengukuran tersebut ditambah 2mm. Jadi, memilih softlens semata-mata dengan alasan diamaternya paling besar adalah hal yang tidak benar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/kurang-benar-pilih-softlens-yang-paling-besar.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Softlens Sudah Nyaman Jangan Ganti Sembarangan</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/jika-softlens-sudah-nyaman-jangan-ganti-sembarangan.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/jika-softlens-sudah-nyaman-jangan-ganti-sembarangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 16:27:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lensa Kontak]]></category>

		<category><![CDATA[base curve]]></category>

		<category><![CDATA[diameter]]></category>

		<category><![CDATA[kadar air]]></category>

		<category><![CDATA[memilih]]></category>

		<category><![CDATA[sembarangan]]></category>

		<category><![CDATA[softlens]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.optiknisna.info/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan para [wanita]pemakai softlens lebih dipengaruhi oleh tampilan warna/coraknya ketika memilih-milih softlens yang akan dibelinya. Padahal, sebenarnya ada hal lain yang lebih penting untuk diperhatikan, karena jika diabaikan, bukan hanya bisa menyebabkan softlens kurang nyaman dipakai, tapi bisa jadi malah akan merugikan kesehatan mata. Bahkan, bisa sangat serius dan membutuhkan penanganan intensif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan para [wanita]pemakai <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/softlens-salah-satu-jenis-lensa-kontak.html" target="blank">softlens</a> lebih dipengaruhi oleh tampilan warna/coraknya ketika memilih-milih softlens yang akan dibelinya. Padahal, sebenarnya ada hal lain yang lebih penting untuk diperhatikan, karena jika diabaikan, bukan hanya<span id="more-151"></span> bisa menyebabkan softlens kurang nyaman dipakai, tapi bisa jadi malah akan merugikan kesehatan mata. Bahkan, bisa sangat serius dan membutuhkan penanganan intensif dari dokter spesialis.<br />
<br />
Beberapa tahun belakangan ini, peredaran softlens ke konsumen sebagian sudah jatuh ke tangan orang-orang yang tidak memiliki kompetensi di bidang kesehatan penglihatan, sehingga softlens pun hanya dianggap sebagai barang bebas, bukan bagian dari layanan kesehatan penglihatan. Akibatnya, softlens pun dijual seperti menjual baju, dengan tanpa memperhitungkan nilai layanan yang seharusnya menyertai dalam pelayanan softlens, karena orang-orang itu memang tidak memberikannya. Padahal, biasanya di kemasan/box softlens sudah ada peringatan:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/jgntanparesep.jpg" align="middle" alt="peringatan pelayanan softlens" ?/><br />
Yang demikian itu membuat pengusaha/praktisi optik profesional akhirnya terpaksa menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa softlens sudah dijual dengan sangat murah. Padahal, selain nilai harga softlens, pengusaha optik juga harus memperhitungkan biaya untuk menyediakan tenaga / SDM yang sudah mendapatkan pendidikan khusus supaya mampu memberikan layanan softlens dengan sebaik-baiknya, menentukan softlens yang paling sesuai dengan sifat/kondisi mata calon pemakai, termasuk memberikan konseling dalam pemakaian dan perawatan softlens. Akhirnya, supaya tetap bisa bersaing dengan penjual softlens biasa, komponen jasa/layanan yang biayanya dianggap membebani harga jual pun dipangkas. Konsumen dibiarkan memilih dan menentukan sendiri softlens yang akan dipakainya tanpa bimbingan yang benar. Dengan demikian konsumen pun juga dibiarkan menanggung sendiri resiko jika terjadi kesalahan pemilihan softlens maupun produk2 pendukungnya. Padahal resiko tersebut bisa saja cukup fatal. Tapi, ya mau bagaimana lagi.. Konsumen mengejar harga semurah-murahnya, di sisi lain, pengusaha optikal juga tidak mau rugi. Begitulah yang terjadi sekarang ini..<br />
<br />
Dengan adanya kondisi seperti yang dipaparkan tadi, para pemakai softlens saat ini mau tidak mau harus membekali diri dengan pengetahuan yang cukup dalam memilih dan merawat softlens yang akan dipakainya. Jika tidak, resiko akibat salah pilih dan salah penanganan softlens akan mengancam. Kemudian, jika sudah mendapatkan softlens yang pas dan nyaman dipakai, catat dan simpan baik-baik data spesifikasi softlens tersebut. Cari data-data tersebut pada box/kemasan softlens. Jika tidak tertulis pada box-nya, cari pada blisternya (kemasan dalam yang berisi softlens).<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/speksoflen.jpg" align="middle" alt="data spesifikasi softlens" ?/><br />
Data-data tersebut berguna sebagai pedoman jika anda berniat untuk mengganti softlens anda dengan softlens produk/merek yang lain lagi. Jadi, sebaiknya memang tidak sembarangan berganti softlens. Jangan asal suka dengan corak/warnanya saja. Mengapa begitu? Karena kenyamanan pemakaian softlens ditentukan oleh kecocokan spesifikasi softlens dengan sifat/kondisi mata pemakainya, yaitu diameter kornea, lengkung kornea dan keadaan air matanya. Oleh sebab itu, apabila mata anda sudah merasa sangat nyaman dengan softlens tertentu, usahakan untuk selalu mendapatkan softlens dengan spesifikasi yang sama dengan softlens tersebut, meskipun berbeda merek/produk.<br />
<br />
Bisakah dikompromikan lagi dengan spesifikasi softlens yang tidak sama persis? Bisa. Tapi tidak sembarangan juga. Ada hal-hal yang harus diikuti.</p>
<ol>
<li>Nilai perbedaannya tidak terlalu jauh.</li>
<li>Jika kadar air softlens pengganti lebih rendah dari pada yang akan diganti, maka diameter softlens pengganti tersebut harus lebih besar. Jika diameternya sama, maka <em>Base Curve</em> (BC) softlens pengganti harus lebih kecil.</li>
<li>Jika kadar air softlens pengganti lebih tinggi dari pada yang akan diganti, maka diameter softlens pengganti harus lebih kecil. Jika diameternya sama, maka BC softlens pengganti harus lebih besar.</li>
<li>Jika diameter softlens pengganti lebih kecil dari pada yang akan diganti, maka kadar air softlens pengganti harus lebih tinggi. Jika kadar airnya sama, maka BC softlens pengganti harus lebih kecil.</li>
<li>Jika diameter softlens pengganti lebih besar dari pada yang akan diganti, maka kadar air softlens pengganti harus lebih rendah. Jika kadar airnya sama, maka BC softlens pengganti harus lebih besar.</li>
<li>Jika BC softlens pengganti lebih kecil dari pada yang akan diganti, maka kadar air softlens pengganti harus lebih rendah. Jika kadar airnya sama, maka diameter softlens pengganti harus lebih kecil.</li>
<li>Jika BC softlens pengganti lebih besar dari pada yang akan diganti, maka kadar air softlens pengganti harus lebih tinggi. Jika kadar airnya sama, maka diameter softlens pengganti harus lebih besar.</li>
</ol>
<p>Jika masih bingung dengan 7 hal di atas, paling afdol memang dengan mencoba softlensnya langsung, dengan disertai bimbingan dari praktisi optik yang benar-benar mengerti tentang softlens. Mungkin anda memang tidak mendapat harga yang murah, tapi silahkan renungkan hal ini: Meskipun anda berusaha memperkenalkan barang murah kepada mata anda, jika sampai terjadi apa-apa, mata anda tetap meminta yang mahal..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/jika-softlens-sudah-nyaman-jangan-ganti-sembarangan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Menemukan Mata Dominan</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/cara-menemukan-mata-dominan.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/cara-menemukan-mata-dominan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 12:16:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kelainan Penglihatan]]></category>

		<category><![CDATA[mata dominan]]></category>

		<category><![CDATA[monovision]]></category>

		<category><![CDATA[pemeriksaan mata]]></category>

		<category><![CDATA[presbyopia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.optiknisna.info/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Barangkali cukup banyak yang tidak tahu bahwa sebagian [sangat]besar orang memiliki sepasang mata yang kerjanya cenderung kurang kompak, di mana salah satu mata bersifat lebih dominan atas mata yang satunya lagi. Mungkin bisa digambarkan seperti salah satu tangan (entah yang kanan atau kiri) yang cenderung &#8220;terasa lebih sreg atau lebih bertenaga&#8221; untuk melakukan/mendukung suatu aktifitas. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Barangkali cukup banyak yang tidak tahu bahwa sebagian [sangat]besar orang memiliki sepasang mata yang kerjanya cenderung kurang kompak, di mana salah satu mata bersifat lebih dominan atas mata yang satunya lagi. Mungkin bisa digambarkan seperti salah satu tangan (entah yang kanan atau kiri) yang cenderung &#8220;terasa lebih <em>sreg</em> atau lebih bertenaga&#8221; untuk melakukan/mendukung suatu aktifitas.<span id="more-137"></span> Bagi orang yang kidal, tangan kiri akan lebih terasa <em>sreg</em> (nyaman/pas di hati) dan sering digunakan, sebaliknya, bagi orang yang tidak kidal, tangan kanan lah yang akan terasa lebih <em>sreg</em> dan sering digunakan untuk melakukan sesuatu pekerjaan. Meskipun demikian, keberadaan mata dominan tidak berhubungan dengan kidal atau tidaknya seseorang.<br />
<br />
Seperti diketahui, sensasi penglihatan yang diolah dalam otak kita, merupakan fusi atau gabungan informasi yang diinput dari mata kanan dan mata kiri.<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/binocularview.gif" align="middle" alt="proses penglihatan binokuler" /><br />
Mata dominan adalah mata yang oleh otak &#8220;diprioritaskan&#8221; penerimaan inputnya. Input dari mata tersebut akan menjadi acuan dalam pencitraan sensasi penglihatan di otak. Sedangkan input dari mata yang satunya akan diperlakukan sebagai pelengkap. Keberadaan mata dominan ini sering tidak disadari karena kebanyakan orang sangat jarang sekali melihat hanya dengan mata sebelah saja, tidak seperti dalam penggunaan tangan.<br />
<br />
Mata dominan bukan lah suatu kelainan yang patut dikhawatirkan. Hanya saja pada beberapa kasus atau pekerjaan, kita perlu untuk mengetahui yang mana mata dominan kita. Orang-orang yang sering memotret (dengan kamera model dahulu), menembak, memanah, bermain bilyar, akan perlu untuk mengetahui mata dominannya supaya mampu memberikan pembidikan yang akurat. Dalam upaya rehabilitasi ketajaman penglihatan, pengenalan mata dominan dibutuhkan dalam penerapan teknik <em>monovision</em>, yaitu salah satu teknik dalam mengatasi <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/presbyopia.html" target="blank" title="tentang presbyopia">presbyopia</a>.<br />
<br />
Ada beberapa cara/teknik yang dapat dilakukan untuk mengetahui keberadaan mata dominan kita. Salah satunya adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Siapkan sehelai kertas berukuran setengah halaman folio. Sebaiknya pilih yang agak tebal</li>
<li>Lalu buatlah lubang intip kira-kira sebesar koin Rp500,- di tengah kertas tersebut.</li>
<li>Cari obyek kecil (kira-kira sebesar kepalan tangan) yang terletak ±6 meter dari tempat anda.</li>
<li>Posisikan diri anda menghadap ke arah tempat obyek tersebut.</li>
<li>Pegang kertas berlubang yang sudah dibuat tadi dengan ke dua tangan di masing-masing sisinya.</li>
<li>Posisikan kertas berlubang tersebut di depan wajah anda, lalu jauhkan ke depan dengan menjulurkan kedua tangan hingga lurus.</li>
<li>Dengan kedua mata terbuka, aturlah supaya obyek kecil yang sudah anda tentukan dapat terlihat melalui lubang di tengah kertas yang anda pegang.</li>
<li>Tutuplah mata kanan anda. Jika obyek kecil tersebut tetap nampak terlihat di lubang intip, berarti mata dominan anda adalah mata <del datetime="2011-04-15T13:24:36+00:00">kanan</del> <strong>kiri</strong>. Jika obyek kecil tersebut nampak menghilang dari lubang intip, berarti mata dominan anda adalah mata <del datetime="2011-04-15T13:24:36+00:00">kiri</del> <strong>kanan</strong>.</li>
<li>Jika masih kurang yakin, cobalah ganti mata kiri yang ditutup dan mata kanan dibuka. Jika obyek kecil tersebut tetap terlihat di lubang intip, berarti mata <del datetime="2011-04-15T13:27:39+00:00">kiri</del> <strong>kanan</strong> anda yang dominan. Jika obyek tampak menghilang dari lubang intip, berarti mata <del datetime="2011-04-15T13:27:39+00:00">kanan</del> <strong>kiri</strong> anda yang dominan.</li>
<li>Jika anda bingung dengan cara nomer 8 dan 9, sesudah selesai melakukan step nomer 7, dekatkan kembali secara pelan-pelan kertas tersebut ke arah wajah anda, dengan tetap menjaga supaya obyek tetap terlihat melalui lubang intip, dengan kedua mata tetap terbuka. Ketika kertas sudah sangat dekat ke wajah, mata yang posisinya paling dekat dengan lubang intip adalah mata dominan anda.</li>
</ol>
<p>
Jika anda malas menyediakan kertas berlubang tersebut, anda bisa menggantinya dengan kedua belah telapak tangan anda yang diposisikan hingga membentuk seperti pada gambar ini:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/tesmatadominan.jpg" align="middle" alt="tangan untuk mengetahui mata dominan" /><br />
Selamat mencoba..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/cara-menemukan-mata-dominan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Awet Muda, Pakai Softlens Dengan Ukuran Berbeda</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/agar-awet-muda-pakai-softlens-dengan-ukuran-berbeda.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/agar-awet-muda-pakai-softlens-dengan-ukuran-berbeda.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 15:36:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lensa Kontak]]></category>

		<category><![CDATA[mata tua]]></category>

		<category><![CDATA[monovision]]></category>

		<category><![CDATA[presbyopia]]></category>

		<category><![CDATA[softlens]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.optiknisna.info/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Softlens bisa membuat awet muda? Ada-ada saja. Mungkin begitu yang anda pikirkan. Memang, lensa buatan yang pemakaiannya dengan ditempelkan ke kornea mata itu tidak bisa membuat awet muda. Tapi ia bisa membuat (tampak) awet muda lho. Aha.. berarti ini untuk yang tua-tua ya? Mmm..he..he..he.. Tampak awet muda kan berarti sebenarnya sudah tidak muda.  
Tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/softlens-salah-satu-jenis-lensa-kontak.html" target="blank"><em>Softlens</em></a> bisa membuat awet muda? Ada-ada saja. Mungkin begitu yang anda pikirkan. Memang, lensa buatan yang pemakaiannya dengan ditempelkan ke kornea mata itu tidak bisa membuat awet muda. Tapi ia bisa membuat (tampak) awet muda lho. Aha.. berarti ini untuk yang tua-tua ya? Mmm..he..he..he.. Tampak awet muda kan berarti sebenarnya sudah tidak muda. <img src='http://www.optiknisna.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> <span id="more-125"></span><br />
Tulisan ini sejatinya akan membahas mengenai teknik <em>monovision</em> yang merupakan salah satu cara dalam mengatasi <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/presbyopia.html" target="blank"><em>presbyopia,</em></a> yang biasanya akan mulai dialami oleh mereka yang usianya sudah berkepala 4. Terdapat 3 metode yang umum digunakan dalam penerapan teknik <em>monovision</em>, yaitu:</p>
<ol>
<li>Dengan menggunakan kacamata (sekarang sepertinya sudah ditinggalkan).</li>
<li>Dengan menggunakan lensa kontak.</li>
<li>Dengan operasi (Lasik atau semacamnya).</li>
</ol>
<p>Kita hanya akan membahas yang nomer 2, karena metode ini sepertinya yang paling mudah untuk dilakukan. Mengapa? Karena sekarang ini softlens (yang merupakan salah satu jenis lensa kontak) sudah sangat memasyarakat di Indonesia, terutama bagi kalangan muda. Kemudian, karena di Indonesia saat ini masih sulit untuk mendapatkan softlens dengan ukuran plus, maka kita juga hanya akan membahas monovision untuk penyandang presbyopia yang juga penyandang <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/myopia.html" target="blank">myopia</a> (terutama yang -1,00 atau lebih tinggi). Lhoh.. Mengapa [lagi]? Karena kalau untuk yang bukan penyandang myopia, akan membutuhkan softlens berukuran plus yang sulit didapatkan.<br />
<br />
Untuk menerapkan teknik <em>monovision</em> ini, pada saat pemeriksaan mata, mintalah petugas optik untuk memeriksa dan mengetahui <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/cara-menemukan-mata-dominan.html" target="blank" title="tentang mata dominan">mata dominan</a> anda. Nantinya, mata yang dominan akan diset sebagai mata untuk penglihatan jauh, jadi akan dipasangi softlens yang berukuran untuk melihat jauh. Sedangkan mata yang tidak dominan, akan diset sebagai mata untuk penglihatan dekat (misalnya: baca buku, melihat ke monitor komputer, melihat ke layar ponsel), jadi akan dipasangi softlens yang berukuran untuk melihat dekat. Ukuran untuk melihat dekat ini bisa didapat dengan formula perhitungan:<br />
<center><br />
<h3>Sph + Add</h3>
<p></center><br />
Misalnya, dari hasil pemeriksaan refraksi mata anda, didapat catatan ukuran seperti ini:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/ukrnlensa.jpg" align="middle" alt="catatan hasil pemeriksaan refraksi" /><br />
Berarti ukuran untuk melihat dekatnya adalah:<br />
<strong>R -2,00 + 1,00 = -1,00<br />
L -1,50 + 1,00 = -0,50</strong><br />
<br />
Jika mata dominan anda adalah mata kanan, maka pakailah softlens berukuran -2,00 pada mata kanan, dan pada mata kiri pakailah softlens berukuran -0,50.<br />
Jika mata kiri yang dominan, berarti mata kiri mestinya dipasangi softlens berukuran -1,50, dan mata kanan dipasangi ukuran -1,00.<br />
<br />
Pada saat melihat ke arah jauh, mata yang memakai softlens dengan ukuran untuk melihat jauh akan memberi penglihatan yang lebih jelas dari pada yang sebelahnya, namun sebaliknya, pada saat melihat ke arah dekat (misalnya membaca sms di layar ponsel), mata yang dipasangi softlens dengan ukuran untuk melihat dekat akan memberi penglihatan yang lebih jelas dari pada mata yang sebelahnya. Kondisi tersebut pada awalnya mungkin akan terasa sangat tidak nyaman, karena kedalaman persepsi penglihatan jadi agak terganggu. Namun lama kelamaan (biasanya 1 s/d 2 minggu) akan jadi terbiasa. Beberapa orang bahkan merasa sangat cocok dan terkesan dengan teknik ini. Jika sampai 3 minggu lebih anda tetap merasa tidak nyaman, berarti memang anda tidak cocok dengan teknik <em>monovision</em> ini.<br />
<br />
Memang tidak semua orang dapat menerapkan teknik tersebut. Orang-orang yang dalam pekerjaannya sedang sangat membutuhkan ketajaman penglihatan yang optimal (misalnya sedang mengemudikan pesawat terbang, mobil, dan sebagainya), tidak disarankan untuk menggunakan teknik ini. Orang-orang yang sedang mengajar, para pengacara, hakim, jaksa di ruang sidang, resepsionis hotel, mungkin akan sangat cocok dengan teknik ini.<br />
<br />
Lalu, bagian mana yang disebut membuat tampak awet muda? Ya karena tidak usah memakai kacamata untuk dapat membaca jarak dekat. Orang yang sudah tua (dan mengalami presbyopia) kan kebanyakan harus memakai kacamata untuk dapat membaca (jarak dekat) dengan jelas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/agar-awet-muda-pakai-softlens-dengan-ukuran-berbeda.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lensa Minus Kok Cembung, Harusnya Kan Cekung?</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/lensa-minus-kok-cembung-harusnya-kan-cekung.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/lensa-minus-kok-cembung-harusnya-kan-cekung.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 14:14:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[dioptri]]></category>

		<category><![CDATA[kacamata minus]]></category>

		<category><![CDATA[lensa cekung]]></category>

		<category><![CDATA[lensa cembung]]></category>

		<category><![CDATA[lensa kacamata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.optiknisna.info/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Nhah lo.. digugat seorang remaja SLTP soal kacamata minusnya yang dipasangi lensa [yang kelihatan]cembung di Optik Nisna. Anak sekarang kritis dan pinter-pinter ya. Asli bingung saya. Bukan karena tidak tahu harus menjawab apa, tapi bingung harus mulai dari mana. Soalnya, kesombongan dan kepicikan saya mengisyaratkan kalau pengetahuan fisika optik tentang hal itu masih belum cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nhah lo.. digugat seorang remaja SLTP soal kacamata minusnya yang dipasangi lensa [yang kelihatan]cembung di <a class="post-link" a href="http://www.optiknisna.info/kontak" target="blank">Optik Nisna</a>. Anak sekarang kritis dan pinter-pinter ya. Asli bingung saya. Bukan karena tidak tahu harus menjawab apa, tapi bingung harus mulai dari mana. Soalnya, kesombongan dan kepicikan saya mengisyaratkan kalau pengetahuan fisika optik tentang hal itu<span id="more-115"></span> masih belum cukup mudah untuk dipahami remaja SLTP.<br />
<br />
Akhirnya, setelah berpikir sejenak, saya memulai dengan: &#8220;Tergesa-gesa mau pulang nggak?&#8221; &#8220;Memangnya kenapa Om?&#8221; Eh, dia malah balik bertanya. Saya jelaskan padanya bahwa jika ia ingin jawaban yang cukup utuh, perlu penjelasan yang agak panjang. &#8220;Nggak pa-pa Om, saya nggak buru-buru kok&#8221;, ia menyetujui. Ck..ck..ck.. hebat.. semangatnya terhadap pengetahuan baru itu membuat saya jadi agak malu.<br />
<br />
&#8220;Baiklah&#8221;, lalu saya pun menunjukkan gambar yang ada di artikel tentang <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/hubungan-indeks-bias-dengan-ketebalan-lensa-kacamata.html" target="blank">indeks bias dan ketebalan lensa</a>.<br />
<img class="alignleft" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/lensminhindex2.gif" title="Kelengkungan Lensa" alt="kelengkungan lensa" /><br />
Lensa kacamata memiliki 2 permukaan, yaitu permukaan depan dan permukaan belakang. Permukaan depan (<em>base curve</em>) lensa kacamata, adalah permukaan yang mengarah ke area/obyek yang dilihat, sedangkan permukaan belakang (<em>ocular curve</em>) adalah permukaan yang menghadap/mengarah ke mata pemakai kacamata. Ukuran dioptri lensa, ditentukan oleh indeks bias bahan lensa dan radius kelengkungan kedua permukaan tersebut. Pada umumnya, membicarakan radius kelengkungan akan dinyatakan dengan satuan panjang (milimeter, centimeter, meter, dan seterusnya). Namun, di kalangan Optisien (bisa dikatakan: ahli optik), membicarakan radius kelengkungan permukaan lensa akan lebih sering dinyatakan dalam satuan dioptri, karena seperti diutarakan di atas bahwa kelengkungan permukaan lensa merupakan faktor yang mempengaruhi ukuran dioptrinya. Jika indeks bias bahan lensa tersebut sudah diketahui, maka ukuran kelengkungan permukaan akan bisa mewakili ukuran dioptrinya. Permukaan yang lebih melengkung akan berukuran dioptri lebih tinggi/besar dari pada permukaan yang lebih datar/rata.<br />
&#8220;Om, berarti di lensanya ada 2 ukuran dong Om, kan ada 2 permukaan yang melengkung, depan dan belakang,&#8221; tiba-tiba ia menyela. Vwheheh.. memang kritis anak ini.<br />
Memang betul. Membicarakan ukuran dioptri lensa sebenarnya memang membicarakan gabungan (jumlah aljabar) dari ukuran dioptri kelengkungan permukaan depan dan belakang. Ukuran dioptri kelengkungan akan dinilai plus (+) jika lengkungnya cembung, dan dinilai minus (-) jika cekung.<br />
<br />
Sekarang kita mulai menelaah mengenai lensa minus yang [kelihatan]cembung tersebut. Karena permukaan depan kelihatan cembung, berarti ia berukuran dioptri plus. Misalnya kita anggap ia berukuran +4,00 di permukaan depan. Sekarang coba lihat, bagian tengah lensa lebih tipis dari pada pinggirnya, atau pinggir lebih tipis dari pada tengahnya?<br />
Anak itu meraba-raba lensa kacamatanya, lalu: &#8220;Tengahnya lebih tipis Om&#8221;.<br />
Nhah, berarti permukaan belakang lebih melengkung dari pada yang depan. Berarti dioptri belakang lebih besar dari pada yang depan. Sekarang misalnya kita tetapkan sembarang angka yang lebih besar dari pada 4, taruhlah 5 misalnya. Terus, berhubung permukaan belakang lensa tersebut terlihat cekung maka nilai dioptri permukaan belakang tersebut adalah -5,00. Kalau kemudian kita jumlahkan ukuran dioptri permukaan depan dan permukaan belakang :<br />
<center><br />
<h1>(+)4,00 + (-)5,00 = -1,00</h1>
<p></center><br />
Maka terbukti meskipun lensa tersebut tampak cembung (karena diihat dari permukaan depan), tapi sebenarnya lensa tersebut tetap memiliki ukuran dioptri bernilai minus.<br />
<br />
&#8220;Oohh.. ternyata begitu ya Om,&#8221; mukanya tampak mencerah. Tapi tiba-tiba: &#8220;Kenapa lensanya dibuat tampak cembung seperti ini Om? Kok tidak dibuat rata saja?&#8221;<br />
Vwhaduhh.. bisa mangkin panjang ini. Terpaksa ngeles: &#8220;Wah, ada hal lain yang harus Om selesaikan sekarang nih. Lain waktu boleh main ke sini lagi deh kalau masih ingin tahu&#8221;.<br />
&#8220;Oke Om.. saya pasti akan main ke sini lagi. Terima kasih ya Om,&#8221; sambil mengulurkan tangannya mengajak salaman. Ck..ck..ck.. saya masih kagum dengan semangat keingintahuannya.<br />
Vwheh, berarti harus menyiapkan 1 jurus lagi nih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/lensa-minus-kok-cembung-harusnya-kan-cekung.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Softlens Dan Kacamata Lebih Bagus Mana?</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/softlens-dan-kacamata-lebih-bagus-mana.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/softlens-dan-kacamata-lebih-bagus-mana.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 08:27:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[Lensa Kontak]]></category>

		<category><![CDATA[anisometropia]]></category>

		<category><![CDATA[perbandingan softlens dan kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[softlens]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.optiknisna.info/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan yang membandingkan ini ternyata masih sering saya terima dari para pengunjung optik saya, terutama pemakai kacamata yang ingin mencoba/beralih ke softlens. Seperti biasa, saya tidak mengemukakan jawaban yang meng-gebyah uyah (menggeneralisir) bahwa softlens lebih bagus dari pada kacamata, atau sebaliknya. Semuanya saya rujukkan pada situasi dan kondisi penanya. Jadi, jawaban yang diterima oleh penanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan yang membandingkan ini ternyata masih sering saya terima dari para pengunjung <a class="post-link" href="sekarang-di-optik-nisna.html">optik saya</a>, terutama pemakai kacamata yang ingin mencoba/beralih ke <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/softlens-salah-satu-jenis-lensa-kontak.html">softlens</a>. Seperti biasa, saya tidak mengemukakan jawaban yang meng-<em>gebyah uyah</em> (menggeneralisir) bahwa softlens lebih bagus dari pada kacamata, atau sebaliknya. Semuanya saya rujukkan pada situasi dan kondisi penanya. Jadi, jawaban yang diterima oleh penanya <span id="more-82"></span>A belum tentu berlaku untuk penanya B.<br />
<br />
Seperti sudah saya tulis <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/keunggulan-lensa-kontak-dalam-meningkatkan-tajam-penglihatan.html">di artikel yang ini</a>, kinerja optis lensa kontak (termasuk juga softlens) memang memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan kacamata. Namun ini bukan berarti bahwa softlens merupakan solusi terbaik untuk mengatasi kaburnya penglihatan akibat kelainan refraksi (<a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/myopia.html">myopia</a>, <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/hypermetropia.html">hypermetropia</a>, <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/astigmatisme.html">astigmatisme</a>, <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/presbyopia.html">presbyopia</a>). Penentuan mana yang terbaik, harus mempertimbangkan kondisi yang ada pada penderita kelainan refraksi tersebut.<br />
<br />
Softlens akan lebih bagus dari kacamata jika:</p>
<ol>
<li>Calon pemakai tidak memiliki riwayat alergi, karena dikhawatirkan akan tidak tahan dengan produk-produk kimia yang digunakan dalam perawatan softlens. Jika calon pemakai memiliki riwayat alergi, sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter spesialis mata, apakah boleh memakai softlens atau tidak.</li>
<li>Belum pernah menjalani operasi mata, terutama yang mengakibatkan perubahan bentuk/kontur kornea. Pemakaian softlens untuk mereka yang pernah menjalani operasi mata sebaiknya sudah mendapat persetujuan dokter yang berkompeten.</li>
<li>Tidak memiliki kelainan bentuk kornea yang terlalu rata/flat (<a class="post-link" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cornea_plana_1"><em>cornea plana</em></a>) maupun yang terlalu mengerucut (<a class="post-link" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Keratoconus"><em>keratoconus</em></a>). Kedua kelainan bentuk kornea tersebut akan dapat menyebabkan softlens/lensa kontak tidak dapat fit/terpasang secara ideal).</li>
<li>Tidak memiliki kelainan <em>palpebra</em> (kelopak mata) yang mempersulit pemasangan dan pelepasan softlens, atau yang menyebabkan kedudukan softlens tidak ideal.</li>
<li>Tidak bekerja di lingkungan yang berdebu, bersuhu tinggi, atau pun beruap bahan kimia (misalnya di pom bensin, area pengecatan mobil, dll).</li>
<li>Terdapat kasus anisometropia tinggi, yaitu mata kanan dan kiri memerlukan ukuran lensa yang berbeda jauh. Pemakaian softlens dalam kasus ini tentu saja juga harus memenuhi 5 persyaratan di atas.</li>
</ol>
<p>
Jika kelima persyaratan yang disebutkan di atas tidak dapat dipenuhi, maka kacamata akan menjadi solusi yang lebih bagus dari pada softlens. Jika terdapat kasus anisometropia tinggi namun tidak dapat memenuhi kelima persyaratan diatas, maka solusi terbaiknya adalah dengan menjalani operasi LASIK, meskipun untuk itu juga harus memenuhi beberapa persyaratan lagi.<br />
<br />
Khusus bagi para pengusaha atau pemilik optik, tentunya akan lebih bagus kacamata dari pada softlens. <img src='http://www.optiknisna.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/softlens-dan-kacamata-lebih-bagus-mana.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Keunggulan Lensa Kontak Dalam Meningkatkan Tajam Penglihatan</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/keunggulan-lensa-kontak-dalam-meningkatkan-tajam-penglihatan.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/keunggulan-lensa-kontak-dalam-meningkatkan-tajam-penglihatan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 12:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lensa Kontak]]></category>

		<category><![CDATA[ametropia]]></category>

		<category><![CDATA[anisokonia]]></category>

		<category><![CDATA[anisometropia]]></category>

		<category><![CDATA[softlens]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.optiknisna.info/keunggulan-lensa-kontak-dalam-meningkatkan-tajam-penglihatan.html</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan tentang keunggulan lensa kontak ini sebenarnya sudah dipersiapkan (secara offline) sejak lebih dari 1 bulan yang lalu. Namun kemudian prioritas penyelesaiannya dikalahkan dengan aplikasi/program Sistem Administrasi Optikal yang saya buat dalam waktu hampir bersamaan. Baru sesudah aplikasi tersebut berjalan sesuai dengan yang saya harapkan, tulisan ini pun mendapatkan gilirannya. Sebelum meneruskan kembali penyelesaian tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan tentang keunggulan lensa kontak ini sebenarnya sudah dipersiapkan (secara offline) sejak lebih dari 1 bulan yang lalu. Namun kemudian prioritas penyelesaiannya <strike>di</strike>kalah<strike>kan</strike> dengan aplikasi/program <a class="post-link" href="http://optiknisna.info/software-administrasi-optik-untuk-manajemen-data-pasien-yang-lebih-baik.html">Sistem Administrasi Optikal</a> yang saya buat dalam waktu hampir bersamaan. Baru sesudah aplikasi tersebut berjalan sesuai dengan yang saya harapkan, tulisan ini pun mendapatkan gilirannya.<span id="more-65"></span> Sebelum meneruskan kembali penyelesaian tulisan ini, saya sempatkan untuk <em>gogling</em> dengan kata kunci &#8220;keunggulan lensa kontak&#8221; dan membuka belasan halaman hasil pencarian. Ternyata tidak menemukan tulisan/artikel dalam Bahasa Indonesia yang membahas tentang hal tersebut secara cukup mendalam. Jadi, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi pengisi ketidakberadaan tersebut.<br />
<br />
Di samping beberapa kekurangan yang dimilikinya, lensa kontak memiliki keunggulan yang sangat sulit bisa didapatkan dari kacamata, terutama mengenai kemampuannya dalam memperbaiki tajam penglihatan yang berkurang akibat kelainan refraksi. Beberapa keunggulan yang sangat pantas untuk menjadi bahan pertimbangan dalam memilih metode perbaikan tajam penglihatan tersebut adalah:<br />
</p>
<ol>
<li><strong>Perbesaran/Magnifikasi Yang Sangat Minim.</strong><br />
Bayangan/image obyek yang dibentuk oleh lensa cembung maupun cekung akan mengalami magnifikasi dari ukuran obyek aslinya. Bayangan akan lebih besar jika magnifikasi tersebut bernilai positif, dan akan lebih kecil jika magnifikasinya bernilai negatif. Besar nilai magnifikasi tersebut berbanding lurus dengan jarak antara lensa ke layar atau ke sistem optis berikutnya (bolamata juga merupakan suatu sistem optis).<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/kcmtdanlk.jpg" align="middle" alt="letak soflen dan kacamata" /><br />
Posisi lensa kontak dan efeknya sebagaimana digambarkan pada ilustrasi di atas membuat fenomena <em>anisokonia</em> (perbedaan ukuran bayangan pada retina mata kanan dan retina mata kiri) yang terjadi pada pemakaian lensa yang berbeda ukuran antara mata kanan dan kiri juga menjadi sangat minimal. Keuntungan dari ini adalah: Penderita <em>anisometropia</em> tinggi (mata kanan dan kiri membutuhkan lensa koreksi yang sangat jauh berbeda) dapat memakai lensa kontak yang ukuran dioptrinya berbeda jauh (>3.00 dioptri) untuk mata kanan dan kiri. Untuk pemakaian kacamata, kasus <em>anisometropia</em> seperti itu tentu membutuhkan penanganan khusus.</li>
<p></p>
<li><strong>Mampu Mengkoreksi <em>Irregular Astigmatism</em> (Silindris Tak Beraturan).</strong><br />
Ini hanya berlaku pada lensa kontak kaku (rigid), bukan pada soflen. Juga hanya pada <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/mata-cylindris-ternyata-ada-beberapa-jenis.html">astigmat ireguler</a> yang terjadi karena ketidakberaturan kontur kornea, bukan oleh astigmat internal. Untuk mengetahui astigmat/silindris yang terjadi disebabkan oleh faktor kornea atau faktor internal bolamata, membutuhkan pemeriksaan kontur kornea. Refraksionis Optisien yang berpengetahuan cukup pasti akan mampu melakukannya, asal di optikalnya tersedia (minimal) keratometer dan slitlamp.<br />
Sebagaimana tergambarkan pada ilustrasi di atas, sebenarnya lensa kontak tidak menempel secara ketat atau bersentuhan langsung pada kornea, tetapi mengambang pada molekul-molekul air mata yang membentuk lapisan tipis airmata (<em>tearfilm</em>). Lapisan air mata ini akan mengisi relung-relung pada permukaan kornea dan berlaku seakan-akan merupakan lensa tambahan yang berada diantara kornea dan lensa kontak. &#8220;Lensa tambahan&#8221; inilah yang akan mengkoreksi astigmat ireguler tersebut. Bukan hanya pada kasus astigmat iregular saja lensa kontak ini mampu memberikan keuntungan, tapi juga pada kasus <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/mata-cylindris-ternyata-ada-beberapa-jenis.html">astigmat reguler</a>. Jika silindris korneanya cukup kecil (tidak lebih dari 0,5), akan dapat terkoreksi oleh lensa kontak ini, meskipun lensa kontak yang dipakai tidak berukuran silindris. Pada kasus astigmat ireguler pun ada hal-hal yang membuatnya tidak dapat terkoreksi oleh lensa kontak, yaitu ketika lapisan airmata tidak mampu mengisi celah antara kornea dengan lensa kontak secara optimal.</li>
<p></p>
<li><strong>Lapang Pandang Yang Lebih Luas.</strong><br />
Karena letaknya yang menempel ke kornea dan mengikuti gerakan bolamata, garis/sumbu pandang bolamata akan selalu tepat pada pusat optik lensa sehingga membuat pemakai lensa kontak tetap mendapatkan penglihatan yang tajam dan jelas saat mata melirik ke segala penjuru. Sensasi kebebasan memandang ini tidak dapat diperoleh dari pemakaian kacamata, terutama jika ukuran dioptri lensanya sudah tinggi (>6.00 D). Pemakai kacamata ber-dioptri tinggi akan merasakan penglihatan yang lebih kabur pada saat melirik ke kanan atau ke kiri. Ini terjadi karena lensa kacamata terpasang menetap/mati sehingga pada saat mata melirik, garis/sumbu pandang mata menjadi lepas/bergeser dari pusat optik lensa. Jadi, ketajaman penglihatan yang optimum pada kacamata hanya didapat pada saat memandang lurus saja.</li>
</ol>
<p>Mungkin keunggulan terakhir ini yang membuat banyak bapak-bapak tetap memakai kacamata, tidak beralih ke lensa kontak, meskipun minusnya cukup tinggi. Kenapa? Karena dilarang oleh istrinya. <img src='http://www.optiknisna.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/keunggulan-lensa-kontak-dalam-meningkatkan-tajam-penglihatan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Software Administrasi Optik Mengatur Data Pasien Lebih Baik</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/software-administrasi-optik-untuk-manajemen-data-pasien-yang-lebih-baik.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/software-administrasi-optik-untuk-manajemen-data-pasien-yang-lebih-baik.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 16:03:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Infoptika]]></category>

		<category><![CDATA[Komputer]]></category>

		<category><![CDATA[Serbaneka]]></category>

		<category><![CDATA[administrasi optik]]></category>

		<category><![CDATA[manajemen optik]]></category>

		<category><![CDATA[program optik]]></category>

		<category><![CDATA[software]]></category>

		<category><![CDATA[software optik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://optiknisna.info/software-administrasi-optik-untuk-manajemen-data-pasien-yang-lebih-baik.html</guid>
		<description><![CDATA[Pada dekade awal saya berkecimpung dalam dunia optik (belasan tahun yang lalu), software developer baik institusional maupun personal belum lah sebanyak saat ini. Penawaran-penawaran aplikasi yang ditujukan untuk mempermudah pengelolaan administrasi suatu lembaga, belum lah semarak sekarang ini. Pada masa itu, mencari dan menemukan data-data hasil pemeriksaan refraksi lama dari seorang pasien bisa menjadi mimpi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada dekade awal saya berkecimpung dalam dunia optik (belasan tahun yang lalu), <em>software developer</em> baik institusional maupun personal belum lah sebanyak saat ini. Penawaran-penawaran aplikasi yang ditujukan untuk mempermudah pengelolaan administrasi suatu lembaga, belum lah semarak sekarang ini. Pada masa itu, mencari dan menemukan data-data hasil pemeriksaan refraksi lama dari seorang pasien bisa menjadi mimpi buruk bagi saya.<span id="more-64"></span> Terbatasnya sumber daya manusia yang menangani sistem administrasi, dan kompleksnya sifat/karakteristik data yang harus ditangani membuat sistem administrasi yang ada saat itu menjadi sangat jauh dari memadai, bahkan boleh dibilang kusut.<br />
<br />
Ketika sekitar 6 tahunan yang lalu saya mulai mengenal komputer, saya sangat berharap agar saya dapat segera mengkomputerisasikan seluruh kegiatan administrasi dalam optik yang saya kelola (waktu itu masih mengelola optik milik mertua). Pada awalnya saya mencoba belajar dan mengandalkan Ms.Excel, sebuah aplikasi <em>spreadsheet</em> yang merupakan bagian dari paket <em>software</em> Microsoft Office. Namun, karena kompleksnya administrasi yang dituntut dalam penyelenggaraan optik yang baik, saya merasa sangat kerepotan. Terlalu banyaknya kolom data yang harus dibuat mengakibatkan <em>spreadsheet</em> menjadi memanjang ke arah horisontal dan memusingkan pencarian data. Apalagi bila jumlah baris datanya sudah mencapai ratusan atau bahkan ribuan.<br />
<br />
Lebih kurang 5 bulan sejak saya mengenal komputer, internet pun mulai memasuki ranah pengetahuan saya. Dari media internet itu lah saya tahu mengenai apa yang disebut basis data atau <em>database</em>. Sejak itu pula lah saya menyadari bahwa dalam paket <em>software</em> Microsoft Office yang terinstal di komputer saya juga terdapat aplikasi untuk membuat <em>database</em>. Ya, Ms.Access. Saya pun tergelitik untuk mulai mempelajarinya. Beberapa buku referensi saya beli. Tagihan dari Telkom pun membengkak lebih dari 500 ribu rupiah karena saya juga berusaha mendapatkan referensi dari internet (waktu itu biaya internetan jauh lebih mahal dari pada sekarang ini), baik melalui <em>mailing list</em> (Mailplus, mailing list pertama yang saya ikuti. Sampai saat ini saya masih menjadi anggotanya) mau pun artikel-artikel yang ditulis di situs-situs pembelajaran komputer.<br />
<br />
Membuat basis data untuk mengadministrasi optik ternyata jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan. Lebih mudah memahami <em>tool-tool</em> yang terdapat dalam Ms.Access dari pada memahami pembuatan struktur <em>database</em> yang benar, juga normalisasi tabel-tabelnya. Belum lagi saya terbentur pada keunikan administrasi optik yang harus menggabungkan administrasi data pasien, administrasi penjualan (<em>point of sales</em>) dan administrasi jasa (layanan perbaikan atau pemasangan lensa, seperti administrasi bengkel). Elemen <em>point of sales</em>-nya sendiri juga memiliki keunikan, harus mampu mengakomodasi sifat <em>negotiable price</em> yang masih diberlakukan di kebanyakan optik kelas menengah ke bawah.<br />
<br />
Setelah beberapa kali <em>trial &#8216;n error</em>, pertengahan 2007 yang lalu saya mulai mendapatkan struktur database yang bisa berjalan sesuai dengan sebagian besar keinginan saya. Lama sekali? Iya.. Sebabnya, waktu luang saya semakin menyempit seiring dengan keaktifan saya di organisasi. Di samping itu juga saya tertarik untuk mengenal editing foto, editing audio dan video, sedikit desain grafis, dan yang terakhir, pembuatan website. Proyek utama jadi agak sering terabaikan, karena lama-lama merasa jenuh dan sedikit putus asa. Baik, kembali ke laptop, e.. urusan <em>database</em>. Struktur yang sudah mulai bisa berjalan saya uji coba untuk mengadministrasi <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/sekarang-di-optik-nisna.html">Optik Nisna</a>. Meskipun belum memenuhi semua harapan, database tersebut sudah mampu menghasilkan printout nota pesanan langsung dari sistem, jadi saya tidak menulis nota pesanan secara manual (dengan tulis tangan di blangko nota) lagi. Untuk sementara, pengembangannya terhenti di situ. Saat itu, waktu luang saya benar-benar habis untuk beberapa urusan di luar pekerjaan utama. Bahkan sudah terbersit di hati saya untuk berpatah arang dan mencari-cari penawaran <em>software</em> khusus untuk optik. Ternyata saya juga putus asa mencarinya. Padahal saat itu sudah demikian banyak pengembang/pembuat aplikasi yang menawarkan bermacam-macam aplikasi untuk pengelolaan usaha, baik mini market, restoran, bengkel, apotik, bahkan untuk rumah sakit. Salah seorang teman yang mengaku sudah pernah memesan aplikasi khusus untuk mengelola optik miliknya, juga mengaku kalau aplikasi tersebut tidak sesuai dengan harapannya.<br />
<br />
Setelah saya menarik diri dari beberapa urusan di luar pekerjaan utama, barulah saya mendapatkan waktu luang saya kembali. Di sela-sela waktu saya dalam mengelola Optik Nisna yang masih balita, selain saya pergunakan untuk menulis artikel dan mengembangkan website www.optiknisna.info yang saya bangun bersamaan dengan pendirian Optik Nisna, juga untuk kembali menekuni proyek impian yang sempat terpendam. Klimaksnya adalah 2 bulan belakangan ini. Selain ke pekerjaan utama, perhatian saya sangat terfokus untuk segera menyelesaikan proyek impian. Beberapa malam sempat ngotot melek hingga hampir subuh untuk mencoba berkenalan dengan kode-kode VBA. Tidak sempat menulis artikel, bahkan kadang untuk mengurus diri sendiri. Hasilnya, selain sebagian besar impian saya terwujud, kondisi fisik saya juga drop sampai harus <em>bedrest</em> 1 hari dan tidak enak makan hampir 1 minggu. Tekanan darah saya juga turun hingga 100/70, hal yang setahu saya belum pernah saya alami.<br />
<br />
Sebagian besar impian? Ya.. mungkin malah sebagian sangat besar. SISTEM ADMINISTRASI OPTIKAL (saya menamakannya demikian, secara singkat: SAO) yang berhasil saya susun adalah sebagian sangat besar dari impian saya tentang pengelolaan optik. Di SAO tersebut saya bisa menyimpan hasil pemeriksaan mata dasar secara cukup lengkap (bukan sekedar ukuran lensa hasil pemeriksaan refraksi) sejak dari anamnesa hingga koreksi refraksi final. Bisa mengadministrasi pelayanan (baca: penjualan) kacamata, lensa kontak, dan perlengkapannya secara detail dan memenuhi &#8220;keunikan&#8221; yang dibutuhkan oleh beberapa orang teman. Juga bisa mengadministrasi pelayanan jasa seperti yang biasa dilakukan oleh kebanyakan optik. Lebih dari itu, SAO yang saya susun tersebut juga memiliki kemampuan multi user atau banyak pengguna. Setiap pengguna harus terdaftar dalam list karyawan, untuk dapat masuk dan menggunakan SAO harus login dengan memasukkan username dan password. Tidak semua pengguna memiliki hak akses informasi yang sama. Hak akses tertinggi adalah admin, bisa mengakses seluruh informasi dan pengaturan. Kedua hak akses yang lain juga memiliki hak jangkau informasi yang tidak sama. Hak akses terendah disiapkan untuk diberikan kepada staf penjualan (pramuniaga).<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/hal_login.jpg" width="480" align="middle" alt="halaman login" /><br />
Dengan kemampuan multi user tersebut, semua karyawan penjualan dapat diberi hak akses sehingga pemilik dapat memonitor kinerja semua karyawan bagian penjualan. Memonitor kinerja? Iya. Elemen <em>point of sales</em> atau pencatatan penjualan dalam SAO ini dilengkapi dengan fitur untuk memasukkan data karyawan/personil yang menjadi fasilitator penjualan. Jadi, setiap transaksi yang terjadi/dicatat akan memiliki tanda: siapa karyawan yang melayaninya. Data-data itu akan dikumpulkan dan disortir oleh sistem SAO untuk ditampilkan dalam fasilitas pengecekan prestasi karyawan. Jumlah total nilai transaksi yang dilayani oleh karyawan yang bersangkutan akan ditampilkan di fitur tersebut. Cukup lumayan kan?<br />
<br />
Selain itu, SAO ini juga dapat menghasilkan laporan transaksi/penjualan yang sangat detail, laporan kas masuk dan keluar yang juga sangat detail. Pokoknya, cukup lumayan untuk dapat membuat saya sangat senang dan terhibur atas jerih payah saya berminggu-minggu. Tulisan ini akan menjadi terlalu panjang kalau saya ingin membahas fasilitas SAO tersebut satu persatu. Jika ingin mendapat gambaran yang lebih detail mengenai sejauh mana kemampuannya, silahkan <a class="post-link" href="http://www.duniaoptik.com" target="blank">cek di sini</a>.<br />
<br />
Akan dikomersialkan kah SAO tersebut? Sangat besar kemungkinannya &#8220;YA&#8221;. Saya kasihan pada keluarga saya yang telah ikut menanggung kesusahan karena sering saya tinggal lembur di toko, kerepotan pada saat saya jatuh sakit dan tidak dapat mengurusi toko, dan kerepotan-kerepotan lain yang ditimbulkan oleh ulah saya karena impian saya tersebut. Namun demikian, saya juga tidak ingin senang sendiri. Saya sudah siapkan versi &#8220;suka rela&#8221;nya. Artinya, boleh dipakai secara GRATIS. Tentu, fasilitasnya sedikit lebih terbatas dari pada yang akan dikomersialkan. Untuk yang versi &#8220;suka rela&#8221; tersebut, <em>link download</em>nya sudah saya sediakan di facebook saya. Silahkan cari <em>link download</em>nya di photo album SISTEM ADMINISTRASI OPTIKAL. Sedangkan versi <em>trial</em>nya (memiliki fitur yang persis dengan yang versi komersial), dapat di<a class="post-link" href="http://www.4shared.com/file/Nz9Lfvzj/saotrial.htm">download di sini</a>.<br />
Untuk yang versi dikomersialkan, harganya masih lebih terjangkau dari pada anda memesan secara khusus ke <em>software developer</em> dengan fitur2 seperti yang ada di SAO. Jika berminat, silahkan langsung <a class="post-link" href="http://www.duniaoptik.com/sistem-administrasi-optikal.html" target="blank"><strong>klik di sini</strong></a>.<br />
<br />
Sekarang, dengan sangat mudah saya akan mampu menemukan data hasil pemeriksaan refraksi dari pasien lama saya, tanpa pakai pusing lagi. Kecuali komputer saya tidak dapat hidup tentu saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/software-administrasi-optik-untuk-manajemen-data-pasien-yang-lebih-baik.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

