Alasan Mengganti Kartu Snellen Dengan LCD Display
Tempat - tempat yang melayani pemeriksaan kesehatan penglihatan seperti rumah sakit, poliklinik mata, puskesmas, dan optik, pada umumnya menggunakan Optotip berupa kartu Snellen untuk menguji visus (ketajaman penglihatan) pasien. Kartu Snellen (dan alat - alat uji visus lain yang serupa) adalah merupakan benda yang bersifat sebagai sumber cahaya sekunder, karena ia baru dapat terlihat jika ada cahaya yang menyinarinya. Arah dan kekuatan cahaya yang menyinarinya akan memberi pengaruh pada seberapa mudah ia dibaca/diamati. Karena itulah, penggunaan kartu Snellen membutuhkan pengaturan pencahayaan yang baik agar pasien dapat mengamati huruf - huruf (atau angka) yang ada di situ dengan tingkat kecerahan yang merata, serta tanpa terganggu oleh pantulan - pantulan cahaya yang justru merugikan proses pengamatan.

Kelemahan kartu Snellen diperbaiki dengan optotip yang dilengkapi dengan penerangan dari arah belakang huruf- hurufnya. Betul.. prinsipnya persis seperti neonbox. Hanya saja, kebanyakan optotip jaman sekarang tidak seperti itu lagi, tapi setiap baris huruf - hurufnya (atau tiap 2 baris jika ukuran hurufnya cukup kecil) dibuat satu blok dan diberi lampu penerangan sendiri. Blok - blok huruf itu dirangkum dalam satu kotak mirip neonbox, namun penerangan di tiap bloknya dapat dihidup-matikan secara bergilir, tidak menyala atau mati secara serentak. Pengaturannya dengan semacam saklar pemilih (biasanya menggunakan rotary switch) yang ditempatkan dalam kotak kontrol dan terpisah dari unit optotipnya. Keduanya dihubungkan dengan kabel multiline. Tipe seperti ini, jika salah satu line dalam kabel ada yang putus, terpaksa harus mengganti keseluruhan kabel penghubungnya. Penulis pernah membuat optotip seperti ini, namun pengontrolnya menggunakan rangkaian elektronik yang ditempatkan di dalam unit optotipnya, sehingga untuk menghubungkan dengan kotak kontrolnya cukup dengan menggunakan kabel 2 jalur, atau bahkan dapat dengan remote kontrol tanpa kabel..

Sekarang, optotip dengan remote kontrol tanpa kabel sudah mudah dibeli di pasaran. Namun, untuk mendapatkan optotip yang lengkap dengan E-chart atau Landolt ring (keduanya dibutuhkan untuk pasien yang tidak mengenal abjad/angka), kemudian juga clock dial (untuk pemeriksaan astigmat), unit bikromatik (red-green test), WFDT, dan lain - lain, akan membuat dimensi optotip menjadi terlalu besar dan kurang indah. Karena itu, kemudian ada optotip dalam bentuk proyektor, yang jauh lebih ringkas namun lengkap, dan.. tentu saja (paling tidak saat ini) jauh lebih mahal. Untuk tipe yang murah, paling tidak harganya sudah 7 jutaan. Wah.. buat penulis, duit segitu sudah bisa untuk mendapatkan 1 unit PC dengan spesifikasi yang cukup bagus + monitor LCD 17″, yang fungsinya jelas bisa jauh lebih banyak dari pada sekedar proyektor optotip. Misalnya, untuk menjalankan database yang menyimpan data - data pasien, menjalankan presentasi untuk berbagi pengetahuan tentang penglihatan bagi pasien, dan lain - lain.Dibandingkan dengan kartu Snellen maupun optotip yang mirip neonbox, LCD display jelas mempunyai beberapa keunggulan yang tak bisa dipandang sebelah mata. LCD display bersifat sebagai sumber cahaya primer, sehingga tidak butuh bantuan penerangan untuk melihat tampilannya. Kontras dan kecerahannya jelas lebih merata dan dapat diatur. Dimensinya jauh lebih ringkas dari pada optotip yang mirip neonbox, namun dapat menampilkan lebih banyak jenis unit tes. Atas dasar beberapa keunggulan tersebut, penulis memilih untuk menggunakan LCD display sebagai penampil berbagai unit tes untuk pemeriksaan penglihatan pasien di optik yang penulis kelola. Meskipun, harus berpikir untuk mendapatkan software penampil berbagai unit tes tersebut. Kalau perlu, bikin sendiri.
Mengcopy dan mempublish ulang artikel dari website ini diperkenankan, asal menyebutkan/mencantumkan (secara eksplisit) sumbernya serta tidak mengubah judul maupun isi artikel


wah betul pak, kalo bisa bikin sendiri yaang keren dan tentunya yang benar
He..he..he..
Sebenernya, udah siyy.. pan dah ‘nyong pampang animasinya di halaman depan..
ada yang touch screen gak?
lhah.. punyak ‘nyong ya bisak touch screen kok.. cumin nggak ngaruh apa2.. kecuali mbikin kotor..

ide mbagusi tuh.. pake touchscreen.. ning*tapi*.. ngelmu ‘nyong nggak nutut *nyampe* buat mrogramnya..
om tolong tulisin tentang soft lens dong.cara fitting,cara pemasangan,cara merawat,kriteria pemakainya,trims ya om
oia knalin om sy uqon.slamat ya atas di resmikannya optik nisna&blognya.gak apa2 ya walaupun telat…ihik…ihik…
om lagi sibuk?lg gak online ya?sy tunggu jawabannya ya?trims om
Aduh.. maaf ya kalok terlambat ngresponnya.. salam kenal juga. tulisan tentang lensa kontak, ta’ bikin ‘tar kalok dah agak luang ya.. lagi ribet mbikin LPJ buat Musda Gapopin Agustus ini jhe..
makasih dah mampir.
Wueesss… manteb bang.. pan kapan, aye tau dah ke mana klok mau konsultasi seputar penglihatan
Ke dokter mata kan?

Tapi tetep nggak bisa kalok mentak jelas pas ngliyat “mie jepun” yang biasanya diblur itu..
ngomong2 cari referensinya dari mana ?
apa udah dilakukan penelitian..?
Referensi soal apa ya? kaidah pembuatan optotip? selain saya dapat dari “Primary Care Optometry: A Clinical Manual” yang ditulis oleh Theodor P. Grosvenor, OD, Ph.D. juga dari mata kuliah Klinik Refraksi yang saya pelajari di Akademi Refraksi Optisi
Om, saya bisa minta sinfo tentang software snellens untuk lcd monitor ndak?
bisa.. salah satunya klik di sini
kalau yang anda maksud adalah yang saya pakai, silahkan hubungi saya langsung di halaman kontak.
Maaf saya mau tanya klo pake neonbox itu kita pake lampu apa? dan berapa volt
kalau yang model dulu sih kebanyakan memakai lampu pijar 220Volt.. termasuk yang (pernah)saya buat dulu.. (sekarang sudah agak malas membuat yang seperti itu lagi.. lebih tampak canggih dengan lcd monitor :-))
menilik perkembangan teknologi yang ada sekarang, barangkali sekarang ada yang berinovasi dengan memakai lampu led, sehingga lebih hemat daya dan lebih tipis dimensinya..