“Mas, ada lensa kontak yang ukuran plus nggak?” suara merdu seorang wanita langsung menyusul bunyi “ting.. tong” dari bel yang bersuara setiap kali pintu optik saya terbuka atau tertutup. Sebenarnya saya tidak punya persediaan softlens berukuran plus, tapi penampilan wanita yang masih terlalu muda untuk mengalami presbyopia itu membuat mata dan hati saya Read more…
Semakin bertambahnya pelaku usaha yang memasuki ranah optikal, ternyata belum diimbangi dengan ketersediaan tenaga ahli yang memiliki pengetahuan memadai di bidang refraksi optisi. Ini menyebabkan masih adanya beberapa (baca: banyak) optik yang menggunakan optotip atau snellen chart yang dibuat secara asal-asalan. Read more…
Beberapa waktu yang lalu, saya menerima email pertanyaan tentang lensa anti lelah. Saya benar-benar belum ngeh (tahu) tentang lensa tersebut. Karena sang penanya memberi gambaran bahwa lensa tersebut dapat membuat pemakainya tidak cepat lelah ketika berlama-lama membaca buku atau aktifitas melihat dekat lainnya (misalnya: bekerja dengan komputer atau laptop), Read more…
Konvensi:
Soflen, meskipun istilah itu (sejauh yang saya tahu) belum dibakukan secara resmi sebagai pengindonesiaan dari kata softlens, dalam artikel ini (dan mungkin artikel2 selanjutnya) akan saya gunakan sebagai istilah yang bermaksud sama dengan softlens. Read more…
Basa-basi sessi 1:
Sejak sebelum mengetikkan kalimat pertama artikeli ini, saya sudah merencanakan judul seperti ini: “Fisiologi Mata Yang Mendasari Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan”. Maunya berkesan ilmiah dan nampak intelek. Tapi setelah selesai dan bersiap untuk mempublishnya, saya jadi agak malu dan berpikir: “Memangnya saya intelek beneran? Read more…
Lensa kacamata, selain diklasifikasikan menurut bahan, jumlah fokus, indeks bias, dan warnanya, juga dibedakan menurut bentuk/desain kelengkungan permukaannya. Kalau masih agak bingung dengan yang dimaksud “kelengkungan permukaan”, boleh juga difahami dengan bentuk kecembungan/kecekungan. Read more…
Tiga hari yang lalu, seorang muda datang ke optik saya. Begitu masuk, sambil pandangannya men-scaning etalase yang penuh berisi aneka bentuk bingkai kacamata, ia memberi aba: “Mas, yang ukuran 52″. Merasa baru kali itu saya mendengar seseorang yang meminta bingkai kacamata ukuran tertentu, rasa penasaran saya menghangat melelehkan kebanggaan dipanggil “Mas” oleh orang semuda itu (sepertinya masih 20an). Mulut saya pun keceplosan: “Mengapa harus ukuran 52 Mas?” Read more…
Jejak Interaksi